Akurat

Bhinneka Tunggal Ika: Arti, Sejarah, dan Makna Lengkap Semboyan Persatuan Indonesia

Naufal Lanten | 21 November 2025, 19:29 WIB
Bhinneka Tunggal Ika: Arti, Sejarah, dan Makna Lengkap Semboyan Persatuan Indonesia

AKURAT.CO Apa arti Bhinneka Tunggal Ika? Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar tulisan pada pita yang mencengkeram Garuda Pancasila. Semboyan ini lahir dari perjalanan panjang sejarah Nusantara dan menjadi fondasi persatuan Indonesia modern. Banyak yang mengenalnya, namun tak sedikit yang masih bertanya: apa arti Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya? Dari mana asalnya? Dan mengapa semboyan ini begitu penting bagi negara?

Untuk memahami makna sesungguhnya di balik kalimat yang menjadi identitas bangsa tersebut, berikut penjelasan lengkapnya.


Apa Itu Bhinneka Tunggal Ika?

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditulis pada lambang negara, Garuda Pancasila. Istilah ini pertama kali ditemukan dalam Kitab Sutasoma, karya Mpu Tantular yang disusun pada abad ke-14 pada masa Majapahit. Dalam naskah tersebut, semboyan ini tertulis dengan aksara Bali pada pupuh 139 bait ke-5.

Berikut kutipan aslinya:

"Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa."

Artinya:

“Konon antara ajaran Buddha dan Hindu berbeda, namun kapan Tuhan dapat dibagi-bagi, sebab kebenaran Jina dan Siwa adalah tunggal, berbeda itu tapi satu jualah itu, tak ada dharma yang mendua tujuan.”

Dari sinilah kemudian lahir konsep persatuan yang menjadi dasar semboyan Indonesia.


Arti Bhinneka Tunggal Ika Secara Harfiah dan Filosofis

Jika diterjemahkan kata per kata dari bahasa Jawa Kuno:

  • Bhinneka berarti “beraneka ragam”

  • Tunggal berarti “satu”

  • Ika berarti “itu”

Sehingga maknanya menjadi: “beraneka ragam itu satu” atau yang lebih populer dengan frasa “berbeda-beda tetapi tetap satu jua.”

Makna filosofisnya jauh lebih dalam. Ia menegaskan bahwa keberagaman suku, agama, ras, budaya, bahasa, hingga adat istiadat bukanlah pemecah, melainkan kekuatan yang menyatukan bangsa Indonesia.


Mengapa Bhinneka Tunggal Ika Penting bagi Indonesia?

Semboyan ini tidak lahir untuk memperindah lambang negara saja. Ia membawa tiga arti penting yang menjadi dasar kehidupan berbangsa:

1. Melahirkan Semangat Nasionalisme

Indonesia tersusun dari ribuan pulau, ratusan suku, serta beragam budaya. Tanpa fondasi persatuan, semua bisa terpecah. Bhinneka Tunggal Ika menjadi pengingat bahwa keberagaman tetap membentuk satu bangsa.

2. Menjadi Landasan Membangun Indonesia yang Maju

Nilai Bhinneka Tunggal Ika menuntun setiap warga negara untuk saling menghargai dan bekerja sama dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pembangunan dan interaksi sosial.

3. Menjadi Benteng di Era Globalisasi

Arus globalisasi membawa masuk banyak budaya dari luar. Semboyan ini membantu masyarakat tetap selektif dan menjaga identitas bangsa, tanpa anti-perubahan.


Makna Luhur Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Bangsa

Konsep Bhinneka Tunggal Ika menanamkan lima nilai utama dalam kehidupan berbangsa:

Bangsa Indonesia menyadari bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan ancaman. Persatuan lahir jika masyarakat meninggalkan ego kedaerahan yang berpotensi memicu perpecahan. Dalam era globalisasi, nilai ini menjadi filter agar budaya luar tak menggerus jati diri bangsa. Sebagai salah satu pilar kebangsaan—bersama UUD 1945, NKRI, dan Pancasila—Bhinneka Tunggal Ika menjaga agar Indonesia tetap stabil, inklusif, dan rukun.


Sejarah Lahirnya Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara

Meskipun berasal dari naskah kuno Majapahit, semboyan ini baru diangkat sebagai simbol negara menjelang dan setelah kemerdekaan.

Sekitar dua setengah bulan sebelum Proklamasi, Muhammad Yamin, I Gusti Bagus Sugriwa, dan Soekarno mendiskusikan masuknya konsep Bhinneka Tunggal Ika sebagai identitas bangsa di tengah sidang BPUPKI.

Beberapa tahun kemudian:

  • Sultan Hamid II merancang lambang Garuda Pancasila.

  • Pada 11 Februari 1950, dalam Sidang Kabinet RIS, lambang Garuda bersama semboyan Bhinneka Tunggal Ika resmi diterima.

  • Pada 17 Agustus 1950, lambang negara itu diperkenalkan kepada publik.

Penelitian tentang Bhinneka Tunggal Ika dilakukan pertama kali oleh Prof. H. Kern pada tahun 1888 dan berlanjut oleh Muhammad Yamin, yang menuliskannya dalam buku 6000 Tahun Sang Merah Putih pada tahun 1954.

Dari semboyan toleransi Hindu–Buddha, kini maknanya meluas mencakup seluruh aspek kemajemukan bangsa—dari suku, agama, ras, bahasa, hingga perbedaan pandangan dan ide.


Prinsip-Prinsip Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Berbangsa

Untuk memahami penerapan semboyan ini secara nyata, ada beberapa prinsip yang menjadi landasan:

1. Common Denominator

Perbedaan agama, adat, dan budaya harus dicari titik temunya. Kesamaan kecil yang ditemukan menjadi landasan hidup rukun.

2. Tidak Sektarian dan Tidak Eksklusif

Tidak ada kelompok yang boleh merasa paling benar. Sikap ini mencegah kecemburuan sosial dan konflik horizontal.

3. Tidak Formalistis

Nilai Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar hafalan, tetapi perilaku. Ia terwujud lewat saling menghormati, percaya, dan mencintai sesama.

4. Bersifat Konvergen

Keberagaman tidak perlu dibesar-besarkan. Yang lebih penting adalah mencari titik pertemuan berbagai kepentingan agar semua pihak bisa berjalan bersama.

5. Prinsip Pluralistik dan Multikultural

Semboyan ini mengandung nilai toleransi, kedamaian, dan kesetaraan. Nilai yang memungkinkan seluruh budaya lokal tetap tumbuh tanpa menimbulkan perpecahan.

6. Semangat Gotong Royong

Gotong royong bukan hanya soal kerja fisik bersama. Kini konteksnya lebih luas, termasuk bersama-sama menangkal hoaks, menjaga ruang digital tetap sehat, dan melawan provokasi yang berpotensi memecah belah bangsa.


Kesimpulan: Apa Arti Bhinneka Tunggal Ika Hari Ini?

Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, tetapi identitas dan fondasi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa negara ini dibangun dari keberagaman yang bersatu dalam tujuan yang sama. Maknanya tetap relevan hingga hari ini, terutama di tengah derasnya arus informasi dan interaksi digital yang berpotensi menimbulkan polarisasi.

Selama nilai Bhinneka Tunggal Ika hidup di dalam masyarakat, Indonesia akan tetap kokoh sebagai bangsa yang besar.

Kalau kamu ingin memahami lebih banyak topik kebangsaan dan sejarah nasional, pantau terus update terbaru di AKURAT.CO.

Baca Juga: Pancasila dan Tantangan Zaman: Jawaban atas Intoleransi, Polarisasi Politik, dan Disrupsi Digital

Baca Juga: Mengapa Sila Pertama Pancasila Rumusan Piagam Jakarta Mulai Tanggal 18 Agustus 1945 Berubah? Ini Penjelasan Lengkapnya

FAQ

1. Apa arti Bhinneka Tunggal Ika secara sederhana?
Bhinneka Tunggal Ika berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Maknanya, Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, budaya, dan bahasa, namun tetap bersatu sebagai satu bangsa.

2. Dari mana asal semboyan Bhinneka Tunggal Ika?
Semboyan ini berasal dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14, yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit.

3. Apa bunyi asli kutipan Bhinneka Tunggal Ika dalam Kitab Sutasoma?
Bunyi lengkapnya terdapat dalam pupuh 139 bait 5:
"Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa."

4. Apa makna dari kutipan tersebut?
Kutipan itu menekankan bahwa perbedaan ajaran Buddha dan Hindu tidak seharusnya memecah persatuan, karena kebenaran tetap satu. Pesan toleransi inilah yang kemudian menjadi inspirasi semboyan nasional Indonesia.

5. Mengapa Bhinneka Tunggal Ika penting bagi Indonesia?
Karena semboyan ini menjadi dasar menjaga persatuan dalam keberagaman. Indonesia memiliki ratusan suku dan kebudayaan yang berpotensi menimbulkan perbedaan, sehingga perlu nilai pemersatu.

6. Siapa yang merumuskan penggunaan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara?
Penggunaan semboyan ini mulai dibahas oleh tokoh seperti Muhammad Yamin, I Gusti Bagus Sugriwa, dan Soekarno pada masa sidang BPUPKI.

7. Kapan Bhinneka Tunggal Ika resmi digunakan sebagai semboyan negara?
Semboyan ini resmi digunakan pada 11 Februari 1950 dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS), bersamaan dengan pengesahan lambang Garuda Pancasila.

8. Siapa perancang lambang Garuda Pancasila?
Lambang tersebut dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak.

9. Apa saja nilai penting yang terkandung di dalam Bhinneka Tunggal Ika?
Nilai yang terkandung antara lain: toleransi, saling menghormati, inklusivitas, gotong-royong, dan pengakuan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan sumber perpecahan.

10. Bagaimana penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari?
Contohnya adalah menghargai perbedaan pendapat, tidak membeda-bedakan suku atau agama, menjaga harmonisasi sosial, dan menolak sikap eksklusif atau sektarian.

11. Apakah konsep Bhinneka Tunggal Ika hanya berlaku untuk perbedaan agama?
Tidak. Pada masa Majapahit konsep ini terkait toleransi Hindu–Buddha, namun di Indonesia modern, maknanya mencakup perbedaan suku, budaya, bahasa, ras, bahkan cara pandang dalam kehidupan sosial.

12. Mengapa prinsip “common denominator” penting dalam Bhinneka Tunggal Ika?
Karena prinsip ini mengajak masyarakat menemukan persamaan di tengah perbedaan, sehingga tercipta kehidupan rukun di negara yang sangat majemuk seperti Indonesia.

13. Apa hubungan Bhinneka Tunggal Ika dengan empat pilar kebangsaan?
Semboyan ini termasuk salah satu dari empat pilar kebangsaan bersama Pancasila, UUD 1945, dan NKRI, yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

14. Apa contoh sikap yang bertentangan dengan Bhinneka Tunggal Ika?
Sikap sektarian, eksklusif, merasa kelompoknya paling benar, menebar ujaran kebencian, dan diskriminasi terhadap kelompok lain.

15. Bagaimana Bhinneka Tunggal Ika menghadapi tantangan era globalisasi?
Dengan menjadikan keberagaman sebagai modal sosial, memperkuat toleransi, serta menyaring pengaruh luar agar tidak melunturkan identitas nasional.


 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.