Akurat

Referensi Studi Kasus UTBK PPG Guru Tertentu 2025 Jenjang SMK: Media Pembelajaran dan LKPD

Rahmat Ghafur | 29 Juli 2025, 15:15 WIB
Referensi Studi Kasus UTBK PPG Guru Tertentu 2025 Jenjang SMK: Media Pembelajaran dan LKPD

AKURAT.CO Inilah beberapa referensi studi kasus UTBK PPG Guru Tertentu 2025 jenjang SMK mengenai masalah media pembelajaran dan LKPD.

Pelaksanaan Uji Kompetensi Pendidikan Profesi Guru (UKPPPG) bagi peserta jalur Guru Tertentu akan segera dimulai.

Salah satu bagian penting dalam ujian ini adalah tugas penulisan studi kasus yang harus diselesaikan oleh setiap peserta.

Baca Juga: Contoh Studi Kasus PPG 2025 untuk Jenjang SMA: Sudah Tervalidasi dan Minimal 390 Kata

Tugas ini memiliki ketentuan teknis yang harus diperhatikan, yaitu waktu pengerjaan maksimal 30 menit serta panjang tulisan antara 350 hingga 500 kata.

Apabila jawaban yang diberikan tidak mencapai batas minimal kata dalam waktu yang ditentukan, hal ini dapat berdampak negatif terhadap hasil penilaian peserta.

Peserta diharapkan mampu mengangkat isu atau pengalaman yang benar-benar terjadi di lingkungan sekolah, serta mengaitkannya dengan pemahaman terhadap materi pembelajaran yang telah dipelajari selama mengikuti program PPG.

Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun jawaban, berikut disajikan contoh studi kasus UTBK PPG Guru Tertentu 2025 jenjang SMK lengkap dengan uraian jawaban singkat yang dapat dijadikan acuan dalam menyusun narasi yang baik dan sesuai dengan kriteria penilaian.

Masalah 1: Media Pembelajaran di SMK

1. Identifikasi Permasalahan
Sebagai pendidik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), saya pernah menghadapi tantangan serius dalam pemanfaatan media pembelajaran yang belum sepenuhnya mendukung kebutuhan siswa vokasional.

Awalnya, saya masih bergantung pada media konvensional seperti papan tulis, proyektor, dan slide PowerPoint sederhana.

Pendekatan tersebut terbukti kurang kontekstual bagi peserta didik SMK yang justru membutuhkan visualisasi proses kerja dan representasi praktik lapangan.

Ketika materi teori yang berkaitan dengan alat, prosedur, atau teknik diajarkan tanpa dukungan visual konkret, siswa sering mengalami kesulitan dalam membayangkan aplikasinya.

Akibatnya, keterlibatan siswa menurun, mereka kehilangan fokus, dan menganggap pembelajaran teori tidak relevan dengan dunia industri yang akan mereka hadapi.

2. Strategi Pemecahan
Setelah melakukan refleksi dan mencari solusi, saya mulai menjajaki penggunaan media digital yang lebih imersif dan aplikatif. Saya mengintegrasikan video tutorial industri, simulasi prosedur kerja, hingga animasi 3D yang mendekati kondisi nyata di lapangan.

Tak hanya itu, saya mulai memperkenalkan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) sederhana sebagai media untuk memperkaya pengalaman belajar.

Saya juga menyusun e-book interaktif yang menyertakan tautan ke video pembelajaran, gambar alat, dan infografis teknis.

Konten saya ambil dari sumber terpercaya seperti kanal resmi perusahaan industri, platform pelatihan digital, dan perangkat lunak simulasi kerja.

3. Dampak Implementasi
Hasilnya sangat terasa. Minat siswa meningkat, pembelajaran teori menjadi lebih konkret dan dapat dipahami.

Melalui media yang mendekati kenyataan kerja di lapangan, siswa tidak hanya memahami prosedur teknis, tetapi juga mulai mengembangkan inisiatif dan kreativitas dalam menyikapi tantangan pembelajaran.

Banyak dari mereka yang mengaku lebih siap menghadapi praktik kerja lapangan karena sebelumnya telah terpapar dengan alur kerja standar melalui media pembelajaran yang saya gunakan.

4. Pembelajaran yang Diperoleh
Pengalaman ini menegaskan pentingnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa vokasional.

Penggunaan teknologi berbasis industri dalam proses belajar tidak hanya menjembatani teori dan praktik, tetapi juga memperkuat kesiapan siswa dalam menghadapi tuntutan dunia kerja.

Hal ini mendorong saya untuk terus berinovasi dan memperbarui pendekatan pembelajaran sejalan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri masa kini.

Masalah 2: LKPD di SMK

1. Identifikasi Permasalahan
Pada awal pengalaman saya menyusun LKPD di lingkungan SMK, saya menghadapi kesulitan dalam merancang lembar kerja yang benar-benar mampu menjawab kebutuhan pembelajaran vokasional.

LKPD yang saya buat lebih menyerupai latihan teori standarhanya berisi soal-soal konvensional tanpa menyentuh proses kerja nyata.

Tidak ada unsur praktik, visualisasi teknis, atau penguatan logika prosedural yang sesuai dengan dunia industri.

Tampilannya pun kurang menarik dan minim ilustrasi, membuat siswa merasa bahwa LKPD hanyalah tugas administratif tanpa makna pembelajaran yang mendalam.

2. Strategi Pemecahan
Untuk mengatasi hal tersebut, saya mulai merancang LKPD berbasis aktivitas nyata yang mencerminkan dinamika di dunia kerja.

Saya menyusun LKPD dengan pendekatan berbasis proyek, studi kasus industri, dan pemecahan masalah teknik.

Saya desain LKPD menggunakan platform seperti Canva, lengkap dengan gambar teknis, diagram alur, dan QR Code yang terhubung ke video tutorial atau artikel aplikasi.

LKPD ini saya susun dalam beberapa tingkatan kesulitan, agar dapat mengakomodasi kemampuan siswa secara beragam, serta mendorong mereka untuk berpikir kritis dan menyelesaikan tantangan secara kolaboratif.

3. Dampak Implementasi
Penerapan LKPD berbasis proyek ini memberikan perubahan signifikan. Siswa terlihat lebih aktif, partisipatif, dan terlibat secara emosional maupun intelektual dalam menyelesaikan tugas.

LKPD menjadi wahana latihan berpikir sistematis dan memecahkan masalah secara kontekstual, yang sangat bermanfaat untuk persiapan uji kompetensi kejuruan.

Keterampilan kolaborasi, komunikasi teknis, dan penggunaan teknologi informasi juga berkembang seiring dengan penggunaan LKPD yang berbasis tantangan riil.

4. Pembelajaran yang Diperoleh
Pengalaman ini memperkuat pemahaman saya bahwa LKPD di SMK bukan hanya alat bantu latihan, tetapi juga instrumen penguatan kompetensi kerja.

LKPD yang didesain dengan pendekatan kontekstual, visual, dan aplikatif mampu menjembatani kesenjangan antara materi teori dan realitas industri.

Saya pun terdorong untuk terus berinovasi dalam menyusun LKPD yang responsif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan dunia usaha dan industri (DUDI).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D