Hari Anak Nasional: Ketika Orang Tua Memilih, Negara Tak Boleh Menutup Mata

SETIAP Hari Anak Nasional, kita kembali mengucapkan kalimat yang sama: anak adalah masa depan bangsa. Kalimat itu benar, tetapi akan kehilangan makna apabila tidak diterjemahkan menjadi kebijakan dan pelayanan yang sungguh-sungguh berpihak kepada anak.
Anak tidak membutuhkan perayaan yang hanya ramai sehari. Mereka membutuhkan sekolah yang aman setiap hari, guru yang hadir bukan sekadar untuk mengajar, lingkungan yang menghargai perbedaan, serta pendidikan yang membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang cerdas, berkarakter, dan bahagia.
Di tengah peringatan Hari Anak Nasional tahun ini, muncul sebuah fenomena yang patut dibaca secara lebih serius. Di sejumlah daerah, terdapat sekolah negeri yang mengalami kekurangan murid, sementara sekolah lain—termasuk sebagian sekolah swasta—mampu menarik minat masyarakat sejak jauh sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Fenomena tersebut tidak semestinya disederhanakan sebagai akibat perubahan jumlah penduduk atau persaingan antarsekolah. Lebih dari itu, kondisi tersebut dapat menjadi cermin perubahan cara orang tua memilih pendidikan bagi anak. Orang tua hari ini semakin aktif mencari informasi. Mereka membandingkan program sekolah, budaya belajar, kualitas komunikasi, pembinaan karakter, keamanan lingkungan, perhatian terhadap kebutuhan anak, hingga respons sekolah ketika muncul persoalan. Mereka tidak lagi hanya bertanya, “Di mana anak saya bisa bersekolah?” Pertanyaan yang semakin sering muncul adalah, “Di sekolah mana anak saya akan tumbuh dengan baik?”
Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026, Ketua DPR: Jangan Ada Lagi Korban Bullying di Sekolah Maupun Ruang Digital
Perubahan itu menunjukkan kematangan pilihan masyarakat. Pendidikan tidak lagi dipahami hanya sebagai tempat memperoleh nilai, ijazah, atau kelulusan. Sekolah diharapkan menjadi ruang tumbuh yang mampu mengembangkan pengetahuan, keterampilan, karakter, empati, tanggung jawab, dan kepercayaan diri anak.
Dalam konteks ini, sekolah swasta sering kali lebih cepat membaca kebutuhan orang tua. Banyak sekolah membangun komunikasi sejak awal, memperkenalkan program secara terbuka, menyediakan informasi yang mudah diakses, serta menjalin hubungan yang lebih intensif dengan keluarga. Media sosial, kegiatan pengenalan sekolah, konsultasi bagi calon orang tua, dan layanan administrasi yang sederhana menjadi bagian dari cara mereka membangun kepercayaan.
Marketing pendidikan memang dapat memengaruhi pilihan. Namun, marketing bukanlah musuh pendidikan. Yang perlu dikritisi bukan keberadaan marketing, melainkan ketika promosi tidak disertai mutu dan tanggung jawab. Promosi dapat memperkenalkan sekolah, tetapi kualitas pelayananlah yang menentukan apakah kepercayaan orang tua akan bertahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK


