Bukan Cuma MBG, Ini Deretan Program Prabowo untuk Masa Depan Anak Muda

AKURAT.CO Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menghadirkan berbagai kebijakan untuk menyiapkan masa depan generasi muda Indonesia.
Upaya tersebut mencakup pemenuhan gizi sejak usia dini, pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga pembukaan peluang kerja dan kesempatan berkarier di tingkat global.
Langkah ini menunjukkan bahwa mencetak generasi unggul tidak cukup hanya dengan mendorong anak muda bermimpi besar.
Mereka juga membutuhkan dukungan nyata agar dapat tumbuh sehat, memperoleh pendidikan yang layak, mengembangkan keterampilan, dan bersaing di dunia kerja.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, mengatakan pembangunan karakter menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda Indonesia menghadapi masa depan.
“Negara menempatkan karakter anak muda sebagai titik awal kemajuan. Pemerintah membentuk generasi yang tidak menyerah saat menghadapi kesulitan dan tidak runtuh saat gagal. Negara membuka jalan agar pemuda berani bermimpi setinggi langit dan bekerja sekeras mungkin sampai memberi yang terbaik bagi bangsa,” ujar Syahganda dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).
Komitmen tersebut diwujudkan melalui sejumlah program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan generasi muda pada berbagai tahap kehidupan.
Mulai dari pemenuhan gizi, perluasan akses pendidikan, penyediaan ruang belajar yang layak dan modern, hingga pemberian pengalaman kerja serta peluang menembus pasar internasional.
Fondasi Membangun Generasi Unggul lewat MBG
Pembangunan generasi unggul dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk gizi.
Melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah berupaya mendukung tumbuh kembang anak sekaligus memperkuat kesiapan mereka dalam mengikuti proses pendidikan.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 9 Oktober 2026, program MBG telah menjangkau 57,5 juta penerima melalui 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penerima manfaat tersebut terdiri atas 46,2 juta peserta didik, 3,9 juta pendidik dan tenaga kependidikan, serta 7,4 juta kelompok rentan.
Kelompok terakhir mencakup 4,9 juta balita, 1,8 juta ibu menyusui, dan 700 ribu ibu hamil.
Pemerintah menargetkan jumlah penerima MBG meningkat menjadi 72,4 juta orang pada 2027.
Melalui perluasan cakupan tersebut, pemerintah berupaya memastikan kebutuhan gizi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan potensi mereka.
Sekolah Rakyat, Membuka Kesempatan yang Setara
Pemerintah juga memperluas akses pendidikan melalui program Sekolah Rakyat.
Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin agar mereka memperoleh kesempatan belajar sekaligus membantu meringankan beban ekonomi orang tua.
Per 23 September 2026, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 182 titik. Lebih dari 90 lokasi di antaranya menempati gedung permanen dan melayani sekitar 44.000 siswa.
Jumlah siswa tersebut ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 150 ribu pada 2027. Pemerintah juga menargetkan pembangunan 500 Sekolah Rakyat permanen hingga 2029.
Melalui sistem pendidikan berasrama, siswa tidak hanya memperoleh akses belajar, tetapi juga dukungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dengan demikian, mereka dapat bersekolah tanpa terbebani biaya pendidikan, makan, maupun tempat tinggal.
Revitalisasi Sekolah, Menghadirkan Ruang Belajar yang Layak
Perluasan akses pendidikan juga diiringi dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana sekolah.
Pemerintah melakukan revitalisasi untuk menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa maupun guru.
Sepanjang 2025, sebanyak 16.167 sekolah telah direvitalisasi. Sementara itu, proses revitalisasi terhadap 11.744 sekolah pada 2026 dilaporkan telah mencapai sekitar 70 persen.
Atas arahan Presiden Prabowo, target revitalisasi diperluas menjadi 71.744 sekolah. Program ini diharapkan dapat mendukung proses belajar yang lebih optimal melalui perbaikan fasilitas pendidikan.
Digitalisasi Pendidikan
Pemerintah turut mendorong pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan teknologi melalui program digitalisasi pendidikan.
Sepanjang 2025, papan interaktif digital telah didistribusikan ke 288.865 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Pada 2026, setiap sekolah menerima tambahan tiga unit, dengan sasaran empat ruang kelas di setiap sekolah dilengkapi perangkat tersebut.
Kehadiran teknologi di ruang kelas diharapkan membantu guru menyampaikan materi secara lebih interaktif sekaligus memudahkan siswa memahami pelajaran.
Proses belajar juga diharapkan menjadi lebih menarik dan membiasakan siswa memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengetahuan.
Dengan dukungan tersebut, siswa di berbagai wilayah Indonesia diharapkan memiliki akses terhadap pembelajaran modern dan bekal pengetahuan yang semakin setara untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, Promotor Buka Suara soal Kontroversi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 3KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 6Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 7Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 8Link Download Kalender 2027 PDF Lengkap dengan Tanggal Merah, Libur Nasional, dan Cuti Bersama
- 9KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah
- 10Geledah Kantor Pusat Djarum, KPK Dalami Penyimpangan Penerimaan Cukai Rokok








