Akurat Logo

Memperkuat Peran Pesantren dalam Penguatan Literasi Digital Generasi Muda untuk Menangkal Radikalisme

Wahyu SK | 22 Oktober 2026, 18:54 WIB
Memperkuat Peran Pesantren dalam Penguatan Literasi Digital Generasi Muda untuk Menangkal Radikalisme
Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati, Profesor KH. Didin Nurul Rosidin, menyebut lingkungan pendidikan Islam seperti pesantren mampu menjadi benteng utama pertahanan ideologi bangsa. - Foto: Dok. Pribadi

AKURAT.CO Peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran pesantren dalam menjaga keutuhan bangsa.

Di tengah maraknya ancaman intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan di era digital, lingkungan pendidikan Islam seperti pesantren diharapkan mampu menjadi benteng utama pertahanan ideologi bangsa.

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati, Profesor KH. Didin Nurul Rosidin, menyebut bahwa nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan yang diajarkan di pesantren memiliki potensi besar untuk membentuk imunitas generasi muda terhadap paham radikal.

"Kekuatan utama santri itu terletak pada pertemuan antara kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan. Maka otomatis, ketika keempatnya berjalan dengan baik, pesantren sebenarnya mempunyai modal penting untuk membentuk ketahanan terhadap intoleransi, ekstremisme, dan juga kekerasan," jelasnya, Kamis (22/10).

Kendati demikian, Prof. Didin mengingatkan bahwa ketahanan tersebut bukan sesuatu yang instan. Karakter moderat harus terus dipupuk melalui proses pendidikan yang konsisten dan berkesinambungan.

Baca Juga: Menangkal Propaganda Radikalisme di Ruang Virtual Game Online

"Namun, kita juga harus menyadari bahwa status sebagai santri itu tidak otomatis membuat mereka menjadi kebal terhadap propaganda. Inilah yang kemudian harus kita jadikan refleksi bahwa ketahanan itu merupakan hasil pendidikan yang harus terus dirawat," ujarnya.

Menurut Prof. Didin, tradisi keilmuan di pesantren melatih para santri untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan keagamaan yang sempit.

Melalui metode belajar sorogan, bandongan, dan musyawarah, santri terbiasa melihat dinamika perbedaan pandangan secara bijaksana.

"Santri belajar bahasa, membaca kitab, kemudian memahami penjelasan guru, dan mengenali perbedaan pendapat ulama. Nah, ini tentunya diharapkan membuat santri berlatih untuk lebih berhati-hati menghadapi kesimpulan keagamaan yang terlalu instan dan terlalu mudah, terutama yang suka mengkafirkan, suka menyesatkan, atau menghalalkan kekerasan terhadap orang lain," Prof. Didin menerangkan.

Selain itu, kehidupan berasrama turut menanamkan sikap tawadhu, tasamuh, tawazun, tawassuth, dan i'tidal. Nilai-nilai etis ini mengajarkan toleransi dan keseimbangan dalam berinteraksi sosial, sehingga perbedaan tidak dijadikan alasan untuk saling merendahkan atau melakukan tindakan kekerasan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK