Legislator Demokrat Minta Pemerintah Antisipasi Urbanisasi yang Ancam Regenerasi Petani

AKURAT.CO Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Bambang Purwanto, meminta pemerintah mengantisipasi dampak urbanisasi terhadap keberlangsungan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.
Hal itu disampaikan Bambang menanggapi pernyataan Sekretaris Jenderal United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC) Bernadia Irawati Tjandradewi mengenai pertumbuhan kota global yang kini berpusat di Asia.
Bambang menyoroti proyeksi proporsi penduduk Indonesia yang tinggal di wilayah perkotaan mencapai 72,9 persen pada 2045. Artinya, sekitar tujuh dari 10 penduduk Indonesia diperkirakan akan tinggal di perkotaan.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat berdampak terhadap keberlangsungan sektor pertanian, terutama regenerasi petani.
"Pentingnya pemerintah mengantisipasi keberlangsungan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional," tegas Bambang di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
"Artinya pemerintah perlu menyiapkan langkah konkret untuk menghadapi tren tersebut. Bila prediksi ini benar, bagaimana nasib sawah kita yang selama ini menopang ketahanan pangan kita? Dan apa upaya yang harus dilakukan?" lanjutnya.
Bambang mengatakan urbanisasi telah menjadi persoalan serius karena turut menciptakan kesenjangan antara desa dan kota.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat pedesaan, khususnya generasi muda, berpindah ke kota untuk mencari pekerjaan dan kehidupan yang dianggap lebih baik.
Menurutnya, pertumbuhan sentra produksi yang lebih banyak berada di wilayah perkotaan membuat anak muda semakin tertarik meninggalkan desa.
"Hal ini akibat semua kegiatan produksi selalu tumbuh di wilayah perkotaan, sehingga wajar generasi muda menyerbu kota untuk mencari pekerjaan. Sementara di desa tidak tumbuh sentra-sentra produksi, hanya produksi pangan di sawah dan ladang yang selama ini dianggap berkubang lumpur dengan mencangkul," jelasnya.
Ia khawatir kondisi tersebut memperburuk regenerasi petani. Bambang menyebut rata-rata usia petani saat ini sudah berada di atas 50 tahun.
"Kondisi ini sudah mulai dirasakan saat ini. Apalagi bila terjadi semakin tajam kesenjangan maka urbanisasi akan makin besar. Tentu kondisi ini harus mulai diwaspadai karena petani kita rata-rata sudah berusia 50 tahun ke atas," ujarnya.
"Ketika generasi mudanya tidak mau menggantikan, dapat dipastikan tidak ada petani lagi yang akhirnya produksi padi terhenti. Tentu akan mengancam ketahanan pangan," lanjut Bambang.
Baca Juga: KIM Indonesia Luncurkan ETF Emas Syariah XKGS, Tercatat di BEI
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4Soal Dualitas Alumni Universitas Trisakti, Menteri Maman: Hanya Ada Satu Ikatan yakni IKA Trisakti
- 5Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 6Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 7Cuaca Hari Ini 19 September 2026: BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah
- 8Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 9Utang BLBI Warisan 98 Lunas, Menkeu: Presiden Prabowo Sambut Baik Penyelesaian Ini
- 10OTT Lagi, KPK Amankan Bupati Bolaang Mongondow Utara Bersama 13 Orang Lainnya








