Akurat Logo

Titik Panas Karhutla Menurun, Menhut Ingatkan Masyarakat Jangan Bakar Lahan Lagi

Putri Dinda Permata Sari | 16 September 2026, 15:43 WIB
Titik Panas Karhutla Menurun, Menhut Ingatkan Masyarakat Jangan Bakar Lahan Lagi
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menghadiri rapat bersama Komisi IV DPR, di Komples Parlemen. - Akurat.co/Putri Dinda Permata Sari

AKURAT.CO Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyebut tren titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan menunjukkan penurunan. Namun, dia belum dapat memprediksi apakah jumlah titik api akan kembali meningkat hingga periode Oktober atau awal November.

Dia mengatakan, perkembangan hotspot dapat dipantau secara terbuka melalui Sistem Monitoring Hutan Nasional (SiPongi) Kementerian Kehutanan. Data hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan adanya fluktuasi dalam beberapa hari terakhir.

"Saya tidak bisa memprediksi ya, namun perlu saya laporkan per hari ini, angkanya terus menurun ya. Dan ini angka yang sangat terbuka, transparan. Teman-teman bisa cek di SiPongi Kemenhut ya," kata Raja Juli usai rapat bersama Komisi IV DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga: Kasus Karhutla, Pemerintah Bekukan Izin 26 Perusahaan dan 15 Korporasi Diproses Hukum

Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah titik api sempat mencapai 1.309 titik pada 14 September 2026, sebelum kembali turun menjadi 968 titik pada 15 September 2026. "Di 6 provinsi utama yang rawan karhutla, itu juga menunjukkan tren yang alhamdulillah baik," ujarnya.

Di Kalimantan Barat misalnya, jumlah hotspot turun signifikan dari 221 titik menjadi 51 titik berdasarkan pemantauan hingga pukul 23.59 WIB. Sementara itu, Kalimantan Tengah masih menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi.

Meski demikian, Raja Juli menyebut jumlahnya menurun dari 697 titik menjadi 226 titik. Penurunan juga terjadi di Sumatera Selatan, dari 259 titik menjadi 200 titik. Adapun di Kalimantan Selatan, hotspot turun tipis dari 112 titik menjadi 106 titik.

Sebaliknya, kenaikan terjadi di Jambi dan Riau. Di Jambi, jumlah titik api meningkat dari 14 menjadi 18 titik. Sedangkan di Riau naik dari 5 menjadi 15 titik setelah sebelumnya selama empat hari tidak terdeteksi adanya hotspot.

"Jadi konsentrasi utama kita tetap di Kalteng, Kalbar, dan Sumut/Sumsel-nya di Sumatra Selatan. Jadi sekali lagi, trennya terus menurun karena kerja keras teman-teman dari Manggala Agni Kemenhut, TNI-Polri, BPBD, masyarakat peduli api," tuturnya.

Baca Juga: Ada Apa di Balik Karhutla Tahura Bukit Soeharto? OIKN Ungkap Temuan di Lapangan

Raja Juli mengatakan, penurunan hotspot tersebut tidak terlepas dari upaya pemadaman dan pengendalian karhutla yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat. Namun dia mengingatkan, kondisi tersebut dapat kembali berubah apabila praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih dilakukan.

Menurutnya, pembukaan kebun dengan membakar lahan memang dianggap lebih murah oleh sebagian masyarakat, tetapi memiliki dampak besar ketika kondisi alam sedang tidak mendukung.

"Namun kalau seandainya masyarakat tetap melakukan cara-cara lama, cara-cara ya bolehlah 'primitif' gitu ya, masih membakar membuka kebun dengan cara membakar—memang murah, tapi dampaknya sangat luar biasa. Terutama karena tadi, kondisi alamnya sangat tidak bersahabat dengan kita," kata Raja Juli.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.