Marak Fenomena Rojali-Rohana, Tommy Kurniawan: Alarm Pelemahan Daya Beli

AKURAT.CO Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) dinilai sebagai sinyal melemahnya daya beli masyarakat yang perlu segera direspons pemerintah.
"Kita tidak bisa menutup mata. Fenomena Rojali dan Rohana mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang lesu. Ini alarm penting bahwa daya beli terus melemah dan harus segera disikapi," kata Anggota Komisi XI DPR RI, Tommy Kurniawan, dikutip Rabu (6/8/2025).
Untuk itu, Tommy meminta pemerintah untuk memperkuat sektor rumah tangga yang merupakan penggerak utama ekonomi nasional. Dia menekankan pentingnya inovasi dalam pelayanan dan kebijakan ekonomi, agar masyarakat kembali bergairah berbelanja.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Q2 2025, Paradoks Fenomena Rojali-Rohana
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2025 hanya mencapai 4,87 persen, turun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,91 persen.
Padahal sebelum pandemi COVID-19, angka ini sempat menyentuh 5,4 persen. Di mana, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 52 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
"Masyarakat kini jauh lebih selektif dalam berbelanja. Kalau dulu langsung beli, sekarang mereka bandingkan harga di toko online, tunggu promo, bahkan kadang hanya tanya tanpa niat beli. Inilah yang menyebabkan banyak pusat perbelanjaan tampak sepi," jelasnya.
Dia mengingatkan, bila fenomena ini terus dibiarkan, maka akan memperlambat laju ekonomi nasional secara signifikan. Sehingga, pemerintah dan pelaku usaha perlu mempercepat langkah-langkah inovatif guna membangkitkan kembali minat belanja masyarakat.
"Pusat-pusat perbelanjaan juga perlu berinovasi dan meningkatkan pelayanan agar bisa ikut mendorong daya beli masyarakat," tegasnya.
Baca Juga: Fenomena Rojali-Rohana Jadi Pengingat Masalah Ekonomi Rakyat Masih Nyata
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, angkat bicara terkait fenomena 'rojali' (rombongan jarang beli) dan 'rohana' (rombongan hanya nanya), yang belakangan viral di media sosial dan disangkutkan dengan angka kemiskinan.
Dia mengatakan, meski data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan angka kemiskinan, pemerintah belum merasa puas dan menyadari masih banyak persoalan kesejahteraan di lapangan.
"Penurunan angka kemiskinan itu ada ukurannya dan dalam hal ini yang memiliki kewenangan secara perundang-undangan adalah BPS. BPS bekerja sekian bulan melakukan pendataan, dan akibat dari program-program pemerintah, didapati data bahwa terjadi penurunan," kata Prasetyo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 3Kalender Jawa 25 September 2026: Benarkah Jumat Kliwon Hari Baik untuk Menikah?
- 4Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura Malam Ini, Cek Jam Tayang dan Linknya
- 5Indonesia vs Singapura Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026!
- 6Prediksi Skor Indonesia vs Singapura Hari Ini 25 September 2026, Cek Susunan Pemain!
- 7Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 8Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 9Ariawan: Pers Menyadarkan Publik tentang Peran MPR Menjaga Konstitusi dan Kebangsaan
- 10Menag Pimpin Salat Jenazah, Rano Karno Sampaikan Pesan Keluarga untuk Guruh Soekarnoputra







