Pemerintah Perlu Beri Ruang bagi Swasta Hidupkan Industri Hotel dan Restoran di Jakarta

AKURAT.CO Efisiensi belanja negara yang dilakukan pemerintah adalah bagian dari langkah besar untuk menyehatkan fiskal nasional.
Namun, hal ini juga menjadi tantangan serius bagi industri perhotelan dan restoran, khususnya di Jakarta sektor yang selama ini menopang ekosistem pariwisata urban Indonesia.
Krisis yang tengah dihadapi pelaku perhotelan dan restoran harus segera disikapi dengan tindak lanjut yang nyata, dengan berkolaborasi lintas sektor untuk jangka panjang.
Baca Juga: Krisis Mengintai: Industri Hotel dan Restoran Jakarta Terancam PHK Massal
"Kita tidak sedang menuntut belanja negara ditambah, tapi justru mengajak semua pihak swasta, BUMN, pemerintah daerah untuk bersatu menjaga denyut nadi ekonomi kota melalui inovasi dan insentif," ujar Dewan Pakar Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) Bidang Pariwisata, Taufan Rahmadi, dalam keterangannya, Selasa (27/5/2025).
Taufan mengatakan, pentingnya membangun respons strategis baik sektor swasta sebagai mitra dalam reformasi ekonomi nasional.
"Solidaritas nasional tidak cukup dengan simpati. Kami menuntut langkah konkret. Kita perlu membangun solidaritas produktif antara kebijakan fiskal negara dan kesinambungan usaha lokal," ujarnya.
Dia menyoroti bahwa Jakarta tidak bisa lagi hanya dikenal sebagai kota pemerintahan dan birokrasi. Kota ini harus diposisikan sebagai destinasi urban global yang kompetitif.
"Reposisi Jakarta sebagai urban experience destination adalah keharusan. Ini bukan hanya soal branding, tetapi strategi penyelamatan ekonomi kota," kata dia.
Taufan juga mendorong pemerintah daerah (Pemda) dan pusat, untuk membuka ruang partisipasi aktif sektor swasta dalam membiayai event dan kegiatan pariwisata. "BUMN dan swasta harus diberi tempat dalam pembangunan pariwisata perkotaan. Ini saatnya pemerintah menjadi fasilitator, bukan operator tunggal," jelasnya.
Dia juga menegaskan, pentingnya reformasi serius terhadap sistem perizinan dan pengawasan usaha di sektor akomodasi dan kuliner.
Baca Juga: Okupansi Hotel Anjlok, Pakar Serukan Revolusi Strategi Pariwisata Nasional
Saat ini, Industri pariwisata bukan sekadar urusan ekonomi makro, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan mikro dari petani sayur yang memasok restoran, hingga seniman lokal yang menggantungkan hidup pada event pariwisata.
"Regulasi harus berpihak pada pelaku legal. Jika perhotelan resmi terus ditekan biaya, sementara akomodasi ilegal dibiarkan tumbuh tanpa kontrol, maka kita sedang menciptakan ketimpangan yang sistemik," ucapnya.
"Menjaga sektor perhotelan dan restoran tetap hidup berarti menjaga harapan hidup jutaan rakyat pekerja. Dari pelayan restoran hingga produsen bahan baku lokal semuanya adalah bagian dari jantung ekonomi kita," tegas dia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK







