Akurat Logo

Harga Komoditas Naik Belum Tentu Bikin Semua Saham Tambang Untung

Idham Nur Indrajaya | 16 September 2026, 06:07 WIB
Harga Komoditas Naik Belum Tentu Bikin Semua Saham Tambang Untung
Harga komoditas naik belum tentu membuat semua saham tambang untung. Ini faktor yang menentukan margin dan laba emiten. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Harga komoditas yang naik sering dianggap sebagai kabar baik bagi saham tambang. Padahal, kenaikan harga batu bara atau nikel tidak otomatis membuat seluruh perusahaan di sektor tersebut menikmati keuntungan yang sama. Dampaknya bergantung pada posisi perusahaan dalam rantai pasok, volume produksi, struktur biaya, hingga kemampuan mempertahankan margin.

Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal mengatakan investor perlu melihat dampak kebijakan komoditas secara lebih spesifik. Perubahan kebijakan produksi, misalnya, dapat menciptakan perusahaan yang lebih diuntungkan dibanding perusahaan lain dalam sektor yang sama.

“Pelonggaran RKAB lebih tepat dilihat sebagai dispersion event, bukan sector-wide reset. Di nikel, tightness di sisi ore juga membuat posisi perusahaan tambang menjadi lebih kuat karena bargaining power meningkat, sementara beberapa perusahaan converter menghadapi risiko kenaikan biaya feedstock. Jadi, investor perlu melihat posisi dan fundamental masing-masing emiten, bukan hanya pergerakan harga komoditas,” ujar Fauzan dalam acara Media Day by Mirae Asset, Selasa, 15 September 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan satu persoalan penting dalam membaca saham komoditas: harga barangnya bukan satu-satunya penentu laba perusahaan.

Investor perlu melihat siapa yang menjual komoditas, siapa yang membeli bahan baku, berapa volume yang diproduksi, dan seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan setiap unit produk.

Harga Komoditas Naik, Siapa yang Sebenarnya Mendapat Margin?

Kenaikan harga jual memang berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan. Namun, pendapatan yang lebih besar tidak selalu berarti laba tumbuh dengan persentase yang sama.

Sederhananya, perusahaan tambang dapat menjual komoditas dengan harga lebih tinggi. Jika biaya produksinya relatif stabil, tambahan harga tersebut dapat memperlebar margin. Kondisinya berbeda apabila biaya produksi atau harga bahan baku juga meningkat.

Karena itu, ada perbedaan antara harga komoditas naik dan margin perusahaan naik.

Misalnya, sebuah perusahaan menjual produknya dengan harga yang naik 10%. Jika biaya produksinya hanya meningkat 2%, perusahaan memiliki ruang untuk menikmati tambahan margin. Namun, apabila biaya input ikut melonjak 8–10%, keuntungan dari kenaikan harga jual bisa jauh lebih kecil.

Perbedaan tersebut menjadi semakin penting pada perusahaan yang berada di hilir rantai pasok. Mereka tidak hanya menikmati kenaikan harga produk, tetapi juga harus menghadapi perubahan harga bahan baku.

Itulah sebabnya berita mengenai kenaikan harga komoditas seharusnya menjadi titik awal analisis, bukan kesimpulan.

RKAB Longgar Bukan Berarti Semua Saham Batu Bara Menang

Salah satu contoh terdapat pada kebijakan RKAB atau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya. Pelonggaran RKAB dapat membuka peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan volume produksi batu bara.

Namun, tambahan izin produksi tidak otomatis menghasilkan keuntungan yang sama bagi seluruh emiten.

Perusahaan yang memiliki kapasitas produksi, cadangan, biaya operasional, dan kemampuan penjualan yang berbeda akan menerima dampak berbeda pula. Tambahan volume juga baru memberikan kontribusi terhadap pendapatan apabila produksi tersebut benar-benar dapat direalisasikan dan diserap pasar.

Karena itu, pelonggaran RKAB lebih tepat dibaca sebagai dispersion event.

Istilah tersebut menggambarkan situasi ketika satu perubahan kebijakan justru membuat kinerja antarperusahaan semakin berbeda. Bukan seluruh sektor mendapatkan tambahan keuntungan dengan besaran yang seragam.

Perusahaan dengan biaya produksi rendah dan kemampuan menambah volume dapat memperoleh manfaat lebih besar. Emiten lain mungkin memiliki ruang yang lebih terbatas karena kapasitas, kualitas cadangan, kontrak penjualan, atau struktur biaya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.