Dari Limbah Jadi Sumber Daya, PGN Terapkan Ekonomi Sirkular Lewat Pengelolaan Sampah Plastik

AKURAT.CO PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS), Subholding Gas Pertamina terus memperkuat komitmennya terhadap penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang menghadirkan berbagai inisiatif berkelanjutan.
Hal ini guna mendorong pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan, memperkuat partisipasi masyarakat, serta menciptakan nilai tambah melalui penerapan ekonomi sirkular.
Salah satu inisiatif yang dihadirkan kali ini adalah program pengelolaan sampah plastik di lingkungan perusahaan menjadi produk yang bernilai guna sebagai upaya mendorong kemandirian pengelolaan sampah di lokasi perusahaan sehingga mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Baca Juga: PGN Gagas Sambut Kajian CNG, Siap Perluas Opsi Energi Gas Domestik
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman mengatakan program ini tidak hanya menjadi kegiatan pengelolaan lingkungan semata, tetapi juga bagian dari upaya membangun budaya keberlanjutan yang melibatkan seluruh elemen perusahaan.
Dalam implementasinya, PGN menyiapkan sistem pengelolaan sampah plastik yang terintegrasi mulai dari proses pemilahan oleh seluruh karyawan PGN, pengumpulan dan pengelolaan bersama Kertabumi Recycling Centre, hingga pengolahan akhir bekerja sama dengan Bank Sampah Al-Bustaniyah.
“Melalui kolaborasi lintas fungsi dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, kami ingin membangun ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab, meningkatkan awareness ESG di internal perusahaan, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Program ini juga menjadi wujud nyata komitmen PGN dalam menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan,” kata Fajriyah.
Untuk memperkuat pelaksanaan program, PGN juga mendapatkan pendampingan dari Kompas, National Geographic (NatGeo) Indonesia, dan Kertabumi Recycling Centre dalam memperluas kampanye kesadaran lingkungan serta mendorong penerapan ekonomi sirkular di tengah masyarakat.
“Kami berharap melalui inisiatif ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat semakin meningkat, sehingga mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah plastik," ujarnya.
Ikbal Alexander dari Kertabumi Recycling Centre, menjabarkan bahwa berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, timbulan sampah yang tidak terkelola mencapai 109 ton per hari atau sekitar 75% dari total timbulan sampah, sehingga memicu berbagai permasalahan lingkungan seperti pencemaran, peningkatan emisi gas rumah kaca, hingga risiko kerusakan ekosistem akibat penumpukan sampah plastik.
Kondisi ini mendorong perlunya kolaborasi dan langkah nyata dalam menciptakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. “Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab serta mendorong penerapan ekonomi sirkular yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan,” ujar Ikbal.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan PGN melalui edukasi, pemilahan, pengumpulan, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna merupakan langkah positif yang tidak hanya berdampak bagi lingkungan perusahaan, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.
“Kami melihat program seperti ini sangat penting untuk membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan bernilai guna,” tutur Ikbal
Di sisi lain, Ade Sulaeman, Editor National Geographic Indonesia, memaparkan bahwa permasalahan sampah plastik kini tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Berdasarkan sejumlah riset yang dipaparkan, partikel mikroplastik dan nanoplastik bahkan ditemukan di udara, air hujan, hingga dalam aliran darah manusia.
“Kondisi ini menunjukkan dampak sampah plastik yang semakin meluas dan tidak terlihat secara langsung, sehingga membutuhkan peningkatan kesadaran serta perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai,” tegas Ade.
Menurut Ade, melalui kolaborasi lintas sektor upaya pengurangan sampah plastik dapat dilakukan secara lebih efektif. Ia menilai edukasi yang konsisten serta keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci untuk membangun kesadaran publik terhadap dampak sampah plastik bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
“Permasalahan sampah plastik tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat untuk membangun perubahan perilaku masyarakat. Apa yang dilakukan oleh PGN menjadi langkah positif dalam meningkatkan awareness lingkungan sekaligus mendorong keberlanjutan,” tutur Ade
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 3Kalender Jawa 25 September 2026: Benarkah Jumat Kliwon Hari Baik untuk Menikah?
- 4Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura Malam Ini, Cek Jam Tayang dan Linknya
- 5Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 6Indonesia vs Singapura Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026!
- 7Prediksi Skor Indonesia vs Singapura Hari Ini 25 September 2026, Cek Susunan Pemain!
- 8Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 9Kunjungi Pindad, Ketua MPR Dorong Penguatan Industri Pertahanan Nasional
- 10Prabowo Minta Mafia dan Kartel Haji Diberantas, Dorong Audit Forensik Keuangan








