Akurat Logo

Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.650 Usai DIbayangi Lonjakan Harga Minyak Dunia

Esha Tri Wahyuni | 14 September 2026, 09:21 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.650 Usai DIbayangi Lonjakan Harga Minyak Dunia
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan berada dalam tekanan pada perdagangan awal pekan depan. 

Penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, serta lonjakan harga minyak mentah menjadi sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (14/9/2026) masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.610 hingga Rp17.650 per USD.

Baca Juga: Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rp17.590 Akibat Tekanan Eksternal

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.610-Rp17.650," kata Ibrahim dalam risetnya, Senin (14/9/2026).

Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), rupiah ditutup melemah 64 poin ke level Rp17.611 per USD. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan hingga 80 poin dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.547 per USD.

Tekanan terhadap rupiah datang ketika indeks dolar AS menguat. Kondisi tersebut membuat mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan ketika investor meningkatkan permintaan terhadap aset dan mata uang AS.

Dari eksternal, perhatian pasar masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Eskalasi di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global, terutama apabila gangguan meluas ke jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pasar karena kenaikan risiko gangguan pasokan dapat mendorong harga minyak mentah dunia lebih tinggi. Dalam situasi tersebut, harga minyak mentah dunia telah berada di atas USD100 per barel.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi tantangan tersendiri karena kebutuhan energi domestik masih membuat Indonesia menjadi importir neto minyak. 

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk pembayaran impor energi sekaligus memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.