Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.650 Usai DIbayangi Lonjakan Harga Minyak Dunia

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan berada dalam tekanan pada perdagangan awal pekan depan.
Penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS), meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, serta lonjakan harga minyak mentah menjadi sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah pada perdagangan Senin (14/9/2026) masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.610 hingga Rp17.650 per USD.
Baca Juga: Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rp17.590 Akibat Tekanan Eksternal
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.610-Rp17.650," kata Ibrahim dalam risetnya, Senin (14/9/2026).
Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), rupiah ditutup melemah 64 poin ke level Rp17.611 per USD. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan hingga 80 poin dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.547 per USD.
Tekanan terhadap rupiah datang ketika indeks dolar AS menguat. Kondisi tersebut membuat mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan ketika investor meningkatkan permintaan terhadap aset dan mata uang AS.
Dari eksternal, perhatian pasar masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Eskalasi di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global, terutama apabila gangguan meluas ke jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pasar karena kenaikan risiko gangguan pasokan dapat mendorong harga minyak mentah dunia lebih tinggi. Dalam situasi tersebut, harga minyak mentah dunia telah berada di atas USD100 per barel.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi tantangan tersendiri karena kebutuhan energi domestik masih membuat Indonesia menjadi importir neto minyak.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan devisa untuk pembayaran impor energi sekaligus memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK






