Lonjakan Harga Pangan Jadi Tantangan Baru bagi Pemulihan Ekonomi Jepang

AKURAT.CO Di tengah tren pemulihan ekonomi, Jepang kini dihadapkan pada tekanan baru, yakni lonjakan harga pangan. Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda, menyebut situasi ini sebagai “guncangan pasokan kedua” yang harus direspons secara hati-hati.
“Sekarang kita menghadapi guncangan pasokan lainnya dalam bentuk kenaikan harga pangan. Kami memandang dampaknya akan mereda, namun tetap harus diwaspadai,” ujar Ueda dalam konferensi internasional di Tokyo dikutip dari laman reuters, Selasa (27/5/2025).
Inflasi harga beras yang melonjak hingga dua kali lipat menjadi sorotan utama. Pemerintah Jepang pun bergerak cepat dengan menyiapkan langkah stabilisasi, termasuk pengeluaran cadangan beras dan pemberian subsidi energi.
Baca Juga: Inflasi Jepang Melambat, BoJ Hati-hati soal Suku Bunga
Data terbaru menunjukkan inflasi inti Jepang mencapai 3,5% pada April, tetap bertahan di atas target BOJ selama tiga tahun berturut-turut. Meski menjadi sinyal positif bagi arah kebijakan moneter, kondisi ini juga menunjukkan adanya tekanan langsung pada daya beli masyarakat.
“Kenaikan harga ini terjadi secara luas, tak hanya beras, tetapi juga gas alam, bensin, dan listrik. Ini meningkatkan beban rumah tangga,” ujar Ueda. Pemerintah Jepang disebut telah mengalokasikan dukungan fiskal untuk menekan dampak tersebut.
Sementara itu, BOJ menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun fiskal ini. Namun demikian, peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka jika data inflasi dan aktivitas ekonomi tetap menunjukkan tren positif.
Meski ketidakpastian global masih membayangi, terutama dari kebijakan tarif AS, Ueda optimistis Jepang berada dalam lintasan pemulihan jangka menengah.
“Kita memang masih berada dalam tekanan struktural, tapi kami lebih dekat ke target inflasi 2 persen dibandingkan sebelumnya,” katanya.
Baca Juga: BoJ Beri Sinyal Hawkish, Yen Langsung To the Moon
Ueda pun mengingatkan bahwa kebijakan harus tetap fleksibel, mengingat suku bunga Jepang masih mendekati batas bawah nol.
"Di tengah tantangan ini, kami akan terus mencoba menjaga keseimbangan antara pemulihan ekonomi dan kestabilan harga tanpa mengguncang pasar secara drastis," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










