Dimana langkah tersebut menyoroti peran Chimlna dalam membantu Rusia menghindari pembatasan Barat, terutama terkait pengiriman teknologi sensitif.
Melansir dari Reuters, Komisi Uni Eropa mengungkapkan bahwa paket sanksi terbaru tersebut mencakup 52 kapal tambahan dari armada bayangan yang diduga digunakan Rusia untuk mengangkut minyak, senjata, dan biji-bijian tanpa mengikuti aturan internasional.
Dengan penambahan tersebut, jumlah total kapal yang masuk daftar sanksi Uni Eropa mencapai 79.
Armada bayangan tersebut dikabarkan menjadi perhatian khusus Uni Eropa tahun ini karena peningkatan aktivitas kapal-kapal yang tidak diasuransikan oleh perusahaan konvensional Barat.
Bahkan, beberapa kapal dilaporkan mengangkut amunisi dari Korea Utara ke Rusia, memperkuat dugaan keterlibatan negara-negara lain dalam konflik ini.
Dari 52 kapal baru yang terkena sanksi, 33 di antaranya diketahui mengangkut minyak mentah dan produk minyak bumi asal Rusia. Selain itu, Uni Eropa juga menjatuhkan sanksi terhadap 84 individu dan entitas baru, termasuk tujuh entitas dan individu asal China.
Menurut Kepala Sanksi Uni Eropa, David O'Sullivan menjelaskan bahwa China menjadi jalur utama pengiriman teknologi asing ke Rusia.
"Sehingga fakta yang telah kami temukan pada akhirnya memunculkan kekhawatiran bahwa teknologi mutakhir yang seharusnya dibatasi justru mengalir ke Rusia, memperkuat upaya militernya di medan perang melawan Ukraina," paparnya.
Disebutkan, Uni Eropa memberikan sanksi penuh kepada beberapa entitas dan individu asal China berupa larangan perjalanan dan pembekuan aset.
Tak hanya itu saja, sanksi lainnya juga mencakup empat entitas yang diduga memasok komponen drone dan mikroelektronik kepada militer Rusia, serta satu individu dan dua entitas yang membantu Rusia menghindari sanksi Barat.