Menakar Potensi Memanasnya Kembali Hubungan AS dan China
Demi Ermansyah | 19 November 2024, 21:55 WIB

AKURAT.CO Hubungan antara Amerika Serikat dan China kembali menjadi sorotan tajam di tengah dinamika politik global yang semakin kompleks. Dengan Donald Trump yang terpilih sebagai Presiden AS berikutnya, banyak pihak bertanya-tanya apakah hubungan kedua negara akan semakin memanas atau masih memungkinkan adanya kerja sama?
Mengutip dari berbagai sumber, Selasa (19/11/2024), Trump, yang dikenal dengan kebijakan luar negeri yang tegas dan seringkali konfrontatif, sebelumnya telah mengancam akan memberlakukan tarif tinggi hingga 60% pada barang impor dari China.
Selain itu, ia juga menunjuk sejumlah pejabat berhaluan keras dalam tim kebijakan luar negeri AS, seperti Marco Rubio sebagai calon menteri luar negeri dan Mike Waltz sebagai penasehat keamanan nasional. Langkah ini menunjukkan bahwa Trump tidak ragu untuk mengambil tindakan drastis dalam menghadapi China.
Di sisi lain, hubungan antara Trump dan tokoh-tokoh bisnis seperti Elon Musk juga menambah kompleksitas hubungan AS-China. Musk, CEO Tesla Inc, memiliki kepentingan bisnis besar di China dan pernah menyebut Taiwan sebagai “bagian penting dari China,” yang menuai protes keras dari pemimpin Taiwan.
Kedekatan Trump dengan Musk inilah pada akhirnya menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana AS akan mendukung Taiwan di bawah pemerintahan Trump. Dalam pertemuan APEC di Peru, CEO JPMorgan Chase & Co, Jamie Dimon, melihat ancaman tarif tinggi Trump sebagai upaya untuk membawa kedua pemerintahan kembali ke meja perundingan.
Bahkan tak segan-segan, Dimon meminta hadirin untuk membaca buku Trump berjudul 'The Art of the Deal' yang dianggapnya relevan dengan dinamika perundingan antara AS dan China.
Sementara itu, Presiden China, Xi Jinping, melalui pertemuan dengan Biden, telah menyampaikan pesan strategis kepada Trump. Xi menegaskan bahwa China ingin menjaga hubungan baik dengan AS namun siap melawan jika diperlukan, dengan menetapkan empat garis merah yang tidak boleh dilanggar.
Namun, dengan Trump yang cenderung memilih pendekatan konfrontatif, masih belum jelas bagaimana implementasi kebijakan ini akan berjalan.
Pertumbuhan ekonomi dan kebijakan teknologi juga menjadi titik panas dalam hubungan kedua negara. Trump telah mendukung kebijakan yang membatasi akses China ke teknologi canggih, yang dikenal sebagai strategi “small yard and high fence.” Kebijakan ini bertujuan untuk menghentikan China mendapatkan akses ke teknologi tinggi yang dapat mengancam dominasi AS di berbagai sektor.
Selain itu, isu Laut China Selatan dan hak asasi manusia juga menjadi sumber ketegangan. Xi Jinping memperingatkan agar AS tidak ikut campur dalam perebutan wilayah dengan Filipina, sekutu AS, dan mendesak Biden untuk tidak melakukan provokasi lebih lanjut. Kritik Xi terhadap kebijakan AS menunjukkan bahwa perbedaan mendasar dalam pendekatan kedua negara masih menjadi tantangan utama.
Dalam konteks ini, banyak pihak yang mempertanyakan apakah Trump dan kabinetnya akan tetap konsisten dengan kebijakan konfrontatif atau memilih pendekatan yang lebih diplomatis untuk menghindari konflik yang lebih besar.
Dengan hubungan AS-China yang begitu krusial bagi stabilitas ekonomi dan politik global, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintahan Trump akan memiliki dampak signifikan tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi dunia internasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








