Proteksionisme Trump Jadi Redflag bagi Perekonomian Indonesia
Demi Ermansyah | 19 November 2024, 14:37 WIB

AKURAT.CO Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, dikenal dengan kebijakan luar negerinya yang cenderung proteksionis.
Kebijakan ini, yang berfokus pada pembatasan perdagangan internasional demi melindungi industri domestik Amerika, bisa menjadi tantangan besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Jadi, seberapa besar dampak kebijakan proteksionisme Trump bagi Indonesia? Mari kita kupas lebih dalam.
Apa Itu Proteksionisme?
Mengacu kepada buku Globalization and Its Discontents oleh Joseph E. Stiglitz, Proteksionisme itu sendiri merupakan kebijakan yang bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri dari persaingan asing, biasanya dengan cara mengenakan tarif tinggi pada barang impor, pembatasan kuota impor, atau subsidi untuk produsen dalam negeri.
Kebijakan ini sering kali dipandang sebagai langkah yang dapat merugikan negara-negara yang bergantung pada perdagangan internasional, terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Trump, sejak menjabat pada periode sebelumnya, telah memperkenalkan berbagai kebijakan proteksionis, seperti pengenaan tarif tinggi pada barang-barang impor, termasuk produk dari China, Eropa, hingga negara-negara berkembang lainnya.
Kini, dengan kemenangannya di pemilu 2024, banyak yang bertanya-tanya apakah kebijakan proteksionis tersebut akan kembali mengganggu perekonomian Indonesia.
Dampak Proteksionisme Trump ke Ekonomi Indonesia
1. Tarif Impor yang Meningkat
Salah satu kebijakan proteksionis Trump yang paling dikenal adalah penerapan tarif tinggi pada barang impor. Pada masa pemerintahannya sebelumnya, tarif impor untuk produk China bahkan mencapai 25%, dan jika kebijakan ini diteruskan atau diperluas, Indonesia bisa saja terkena dampaknya.
Sebagai negara dengan produk ekspor yang cukup besar ke AS terutama komoditas seperti kelapa sawit, tekstil, elektronik, dan otomotif kenaikan tarif bisa membuat produk-produk Indonesia menjadi lebih mahal di pasar Amerika.
Misalnya, ekspor kelapa sawit Indonesia ke AS, yang merupakan salah satu komoditas utama, bisa mengalami penurunan karena kenaikan harga akibat tarif tambahan. Hal ini bisa merugikan petani dan industri pengolahan kelapa sawit di Indonesia, yang bergantung pada pasar ekspor.
2. Mengurangi Daya Saing Produk Indonesia
Selain tarif, kebijakan proteksionisme Trump dapat mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar global. Ketika AS melarang produk dari negara-negara tertentu atau mengenakan tarif tinggi, negara-negara yang terimbas akan kesulitan untuk bersaing.
Bagi Indonesia, ini berarti produk-produk kita bisa jadi kalah bersaing dengan produk dari negara lain yang tidak dikenakan tarif serupa. Alhasil, ekspor Indonesia ke AS dan negara-negara lain yang mengikuti kebijakan Trump bisa terhambat.
Misalnya, sektor manufaktur seperti tekstil dan alas kaki yang menjadi andalan ekspor Indonesia bisa merasa dampaknya.
Jika produk-produk dari negara lain seperti Vietnam atau Bangladesh yang mendapatkan tarif lebih rendah lebih laris, Indonesia akan kehilangan pangsa pasar yang sangat berharga.
3. Potensi Pengurangan Investasi Asing
Kebijakan proteksionisme juga berpotensi memengaruhi investasi asing di Indonesia. Banyak investor asing, terutama dari AS, yang mungkin enggan berinvestasi di negara dengan potensi ketidakpastian perdagangan.
Jika Trump memperkenalkan kebijakan yang lebih proteksionis dan memperburuk hubungan perdagangan dengan negara-negara lain, investor mungkin akan mencari negara yang lebih stabil dan terbuka untuk berbisnis.
Ini bisa membuat Indonesia harus bersaing dengan negara lain dalam menarik investasi asing yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur dan sektor industri yang lebih maju.
Terlebih lagi, Indonesia yang ingin meningkatkan posisi dalam rantai pasok global mungkin harus menghadapi tantangan besar jika kebijakan proteksionisme Trump berlanjut.
4. Ketegangan Geopolitik yang Meningkat
Kebijakan proteksionisme tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga dapat memicu ketegangan geopolitik. Indonesia, yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan banyak negara, termasuk China dan negara-negara anggota ASEAN lainnya.
Jika Trump memutuskan untuk memperburuk hubungan perdagangan dengan China, misalnya, Indonesia bisa terjebak di tengah ketegangan tersebut.
Indonesia akan terpaksa memilih apakah akan lebih mendukung AS atau China, dua ekonomi besar yang juga memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia.
Ketegangan ini bisa mengarah pada ketidakpastian yang mengganggu kestabilan perdagangan global, dan Indonesia yang bergantung pada ekspor dan impor bisa jadi terdampak cukup besar.
Lalu Bagaimana Indonesia Bisa Menghadapinya?
Melansir dari berbagai sumber, meskipun kebijakan proteksionisme Trump berpotensi memberikan dampak buruk, Indonesia sebenarnya memiliki beberapa cara untuk menghadapinya. Salah satunya adalah dengan memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara lain, baik di kawasan ASEAN, Asia, maupun dengan negara-negara berkembang lainnya.
Misalnya, Indonesia dapat mempercepat implementasi kesepakatan perdagangan regional seperti RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership) yang mencakup negara-negara Asia-Pasifik. Selain itu, Indonesia juga bisa lebih fokus pada diversifikasi pasar ekspor, agar tidak terlalu bergantung pada pasar AS.
Dengan memanfaatkan peluang perdagangan di pasar negara-negara berkembang lainnya, Indonesia dapat mengurangi ketergantungannya pada Amerika Serikat. Pemerintah juga bisa berusaha untuk memperkuat daya saing produk dalam negeri dengan meningkatkan kualitas dan efisiensi industri.
Melalui investasi dalam teknologi dan inovasi, produk Indonesia bisa lebih kompetitif di pasar global, meskipun menghadapi tarif tinggi dari negara-negara tertentu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










