Benarkah Muhammadiyah Tak Rayakan Maulid Nabi? Berikut Penjelasannya

AKURAT.CO Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW akan jatuh pada 12 Rabiul Awal atau 28 September 2023. Meski telah dilakukan sejak lama dan terus turun-temurun, namun polemik hukum tentang Maulid Nabi seolah tak ada habisnya.
Umat Muslim seolah disuguhkan dengan dua perkara hukum mengenai Maulid Nabi. Ada yang setuju dengan peringatan hari kelahiran Rasulullah, namun ada juga yang menentangnya.
Salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, kerap digadang-gadang sebagai salah satu organisasi yang menentang adanya Maulid Nabi karena dinilai bid’ah.
Lalu apakah benar Muhammadiyah tidak merayakan dan tidak menyetujui Maulid Nabi?
Baca Juga: ALVA Dan Muhammadiyah Dukung Gaya Hidup Ramah Lingkungan
Pandangan Muhammadiyah terhadap Maulid Nabi
Dilansir melalui laman resmi Muhammadiyah, organisasi Islam yang dibentuk pada 18 November 1912 ini menyatakan jika tidak ada dalil yang berisi larangan maupun perintah dalam memperingati Maulid Nabi SAW.
“Pada prinsipnya, Tim Fatwa belum pernah menemukan dalil tentang perintah menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi saw, sementara itu belum pernah pula menemukan dalil yang melarang penyelenggaraannya,” tutur Amirudin Faza, Kepala Kantor Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah pada 2021.
Ia juga menegaskan jika hukum Maulid Nabi Muhammad SAW termasuk dalam perkara ijtihadiyah –masalah yang masih ada ruang perbedaan karena tidak ada lafadz atau dalil yang tegas– dan tidak ada kewajiban sekaligus larangan untuk merayakannya.
Menurut Amirudin Faza, jika perayaan telah membudaya di masyarakat, maka penting untuk memperhatikan aspek yang dilarang agama. Selain itu, perayaan Maulid Nabi juga harus atas dasar kemaslahatan, mengandung manfaat untuk kepentingan dakwah Islam.
Baca Juga: Maulid Nabi, Mengapa Harus Ada Perayaan Kelahiran Rasulullah SAW?
Cara Muhammadiyah merayakan Maulid Nabi
Menurut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2022, Dadang Kahmad, Muhammadiyah ikut meramaikan Maulid Nabi dengan dakwah dan tablig, tanpa seremoni-seremoni tertentu.
Selain tablig dan dakwah, Muhammadiyah dalam mengisi Maulid Nabi juga mengadakan berbagai kegiatan sosial seperti santunan sosial, pengobatan gratis, membagikan makanan yang mana ini merupakan tindakan nyata meniru akhlak nabi Muhammad.
“Mungkin Muhammadiyah tidak menyelenggarakan secara khas. Karena bentuk-bentuk penyelenggaraan di dunia ini berbagai macam. Kemarin di Dubai salawat dengan rebana, kalau di daerah lain membagi-bagikan makanan seperti di Afghanistan. Ada juga yang ceramah-ceramah agama,” kata Dadang dikutip melalui laman website Muhammadiyah.
Menurutnya, umat Islam dalam melakukan perayaan Maulid Nabi harus menghindari berbagai perbuatan yang melanggar ajaran agama Islam dan mengancam akidah.
“Tetapi yang kita inginkan jangan sampai memperingati Maulid Nabi itu melanggar aturan agama. Contohnya pada bulan Mulud ini banyak orang yang mensucikan jimat, jimatnya dibersihkan, dimandikan. Saya kira di Muhammadiyah tidak dikenal jimat-jimat seperti itu. Termasuk sihir. Juga mengunjungi kuburan-kuburan keramat. Muhammadiyah tidak seperti itu,” tutur Dadang.[] (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










