Akurat Logo

Laba Bersih Adira Finance Melonjak 56 Persen setelah Merger dengan Mandala, Ini Faktor Pendorongnya

Idham Nur Indrajaya | 30 Oktober 2026, 21:09 WIB
Laba Bersih Adira Finance Melonjak 56 Persen setelah Merger dengan Mandala, Ini Faktor Pendorongnya
Laba Adira Finance 2026 naik 56% menjadi Rp1,6 triliun. Simak faktor keuangan dan strategi integrasi pascamerger Mandala Finance. - dok. Adira Finance

AKURAT.CO Di tengah tekanan ekonomi yang membayangi daya beli masyarakat, Adira Finance justru mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan. Perusahaan pembiayaan ini membukukan laba bersih Rp1,6 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, meningkat 56% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut menarik perhatian karena pertumbuhan laba jauh melampaui kenaikan pendapatan perusahaan.

Laba Adira Finance 2026 tumbuh 56% menjadi Rp1,6 triliun hingga September. Pertumbuhan ini berlangsung bersamaan dengan kenaikan pendapatan sebesar 9% menjadi Rp9,8 triliun, penurunan beban bunga 14%, serta penurunan beban penyisihan kerugian penurunan nilai 10%. Di sisi bisnis, pembiayaan baru meningkat 13% menjadi Rp35,1 triliun, sedangkan rasio pembiayaan bermasalah atau NPF gross konsolidasian membaik menjadi 1,8%.

Kinerja tersebut menjadi menarik untuk dicermati di tengah proses integrasi operasional Adira Finance setelah merger dengan Mandala Finance. Meski demikian, kenaikan laba pada periode Januari–September 2026 perlu dibedakan dari manfaat integrasi operasional yang memasuki tahap Operational Day 1 pada Oktober 2026.

Mengapa Laba Adira Finance Naik 56 Persen pada 2026?

Berdasarkan materi kinerja perusahaan, Adira Finance membukukan total pendapatan Rp9,8 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Angka tersebut meningkat 9% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, total beban perusahaan relatif stabil di kisaran Rp7,6 triliun.

Perbedaan pertumbuhan pendapatan dan laba menjadi salah satu poin penting dalam membaca kinerja perusahaan. Ketika pendapatan meningkat sementara beban relatif terkendali, perusahaan memiliki peluang mencatatkan pertumbuhan laba yang lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatannya.

Dalam kasus Adira Finance, laba bersih meningkat 56% menjadi Rp1,6 triliun. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan sebesar 9%, sehingga perubahan komponen beban menjadi bagian penting untuk dianalisis.

Meski demikian, data yang tersedia belum cukup untuk menghitung kontribusi setiap komponen terhadap kenaikan laba secara terperinci. Perubahan pendapatan, beban operasional, biaya pendanaan, pencadangan, dan komponen lainnya perlu dibaca secara menyeluruh untuk mengetahui penyebab kenaikan laba secara lengkap.

Secara sederhana, bayangkan sebuah perusahaan pembiayaan yang berhasil meningkatkan pendapatan, tetapi tidak mengalami kenaikan beban dalam proporsi yang sama. Selisih antara pendapatan dan beban dapat membesar sehingga laba tumbuh lebih cepat. Ilustrasi ini membantu menjelaskan mekanisme profitabilitas, meskipun tidak menggambarkan perhitungan lengkap laporan keuangan Adira Finance.

Baca Juga: Cicilan Lunas Jadi Hadiah, Ini Cara Pelanggan Adira Finance Ikut HARCILNAS 2026

Baca Juga: Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur

Beban Bunga Turun 14 Persen, Apa Dampaknya terhadap Profitabilitas?

Salah satu perkembangan yang menonjol dalam kinerja Adira Finance adalah penurunan beban bunga sebesar 14% secara tahunan. Selain itu, beban penyisihan kerugian penurunan nilai juga turun 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Beban bunga berkaitan dengan biaya yang harus ditanggung perusahaan untuk memperoleh pendanaan. Bagi perusahaan pembiayaan, pengelolaan biaya pendanaan menjadi penting karena dana tersebut digunakan untuk mendukung penyaluran pembiayaan kepada konsumen.

Penurunan beban bunga dapat membantu memperkuat profitabilitas apabila faktor lainnya tetap terkendali. Namun, untuk mengetahui alasan penurunannya, diperlukan informasi lebih lanjut mengenai struktur pendanaan, perubahan biaya dana, komposisi kewajiban, dan faktor lain yang memengaruhi beban bunga Adira Finance.

Sementara itu, penurunan beban penyisihan kerugian penurunan nilai berkaitan dengan pencadangan untuk mengantisipasi potensi kerugian atas aset keuangan. Perubahan komponen ini dapat memengaruhi laba, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa risiko pembiayaan telah turun dalam proporsi yang sama.

Kedua perkembangan tersebut berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. Meski demikian, besarnya kontribusi masing-masing komponen terhadap kenaikan laba belum dapat dipastikan hanya dari persentase perubahan yang tersedia.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pertumbuhan laba tidak selalu mencerminkan peningkatan pendapatan dengan laju yang sama. Struktur biaya dan perubahan pencadangan dapat membuat pergerakan laba lebih besar atau lebih kecil daripada pertumbuhan bisnis perusahaan.

Pembiayaan Baru Adira Finance Tumbuh 13 Persen Menjadi Rp35,1 Triliun

Selain mencatatkan pertumbuhan laba, Adira Finance mempertahankan momentum ekspansi bisnis. Perusahaan membukukan pembiayaan baru sebesar Rp35,1 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan pembiayaan pada seluruh segmen, baik otomotif maupun nonotomotif. Namun, materi yang tersedia belum merinci kontribusi nominal setiap segmen sehingga belum dapat dipastikan segmen mana yang paling besar mendorong pertumbuhan tersebut.

Pada akhir September 2026, piutang pembiayaan yang dikelola Adira Finance mencapai Rp65,8 triliun, tumbuh 7% secara tahunan. Angka ini menunjukkan skala portofolio pembiayaan yang masih dikelola perusahaan pada akhir periode pelaporan.

Pembiayaan baru dan piutang pembiayaan merupakan dua indikator yang berbeda. Pembiayaan baru mengukur penyaluran selama suatu periode, sedangkan piutang pembiayaan yang dikelola menggambarkan nilai portofolio pada titik waktu tertentu. Karena itu, pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 13% tidak harus diikuti pertumbuhan piutang dengan persentase yang sama.

Perkembangan bisnis Adira Finance juga berlangsung di tengah pertumbuhan industri otomotif nasional. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, penjualan ritel sepeda motor baru meningkat 10% secara tahunan menjadi 5,1 juta unit. Penjualan ritel mobil baru tumbuh lebih tinggi, yakni 16%, menjadi 676 ribu unit.

Kondisi tersebut memberikan konteks bagi pertumbuhan bisnis perusahaan pembiayaan. Meningkatnya penjualan kendaraan dapat memperluas peluang pembiayaan, tetapi kinerja masing-masing perusahaan tetap dipengaruhi strategi penyaluran, persaingan, komposisi konsumen, dan kualitas portofolio.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.