Rupiah dan Ekonomi Global Jadi Tantangan Pariwisata Indonesia, Kok Bisa?

AKURAT.CO Ketidakpastian ekonomi global menjadi tantangan bagi industri pariwisata Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan dan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
Selain konektivitas dan kualitas layanan, stabilitas ekonomi, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga daya saing sektor pariwisata nasional.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia menjadi modal penting untuk memperkuat sektor pariwisata. Hal tersebut disampaikannya saat membacakan keynote speech Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Jakarta Wonderful Indonesia Tourism Fair (WITF) 2026 di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga: HELLO PIK Sambangi Bandung, Bidik Kolaborasi dengan Pelaku Industri Pariwisata Jawa Barat
Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45%. Sementara itu, inflasi pada September 2026 tercatat sebesar 3,28% dan realisasi investasi meningkat 7,2% menjadi Rp 1.010,6 triliun. Lebih dari separuh investasi tersebut terealisasi di luar Jawa.
Kondisi ekonomi tersebut menjadi salah satu modal untuk menjaga permintaan perjalanan wisata domestik sekaligus mendukung investasi di sektor akomodasi, infrastruktur, dan layanan pariwisata.
“Bagi sektor pariwisata, stabilitas ekonomi sangat penting karena daya beli masyarakat yang lebih kuat mendorong perjalanan domestik, sementara investasi mendukung pembangunan infrastruktur, akomodasi, dan peningkatan layanan,” ujar Dradjad dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: Perkuat Industri Pariwisata, Penang Jalin Kemitraan Dengan Indonesia
Di tengah tekanan yang melanda industri pariwisata global, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara. Pada semester I 2026, kunjungan wisatawan internasional secara global tumbuh 0,4%. Sementara itu, kawasan Timur Tengah mengalami penurunan 22% dan Asia Tenggara mengalami kontraksi 1%.
Sebaliknya, Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 5,71%. Sepanjang Januari-Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 10,58 juta, meningkat 5,38% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Jumlah tersebut mendekati 99% dari tingkat kunjungan pada periode yang sama sebelum pandemi. Capaian ini menunjukkan pemulihan pariwisata Indonesia masih berlanjut, meskipun kondisi industri global belum sepenuhnya stabil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T





