Akurat Logo

Indonesia Bidik Investasi AI hingga Pusat Data dari China

Esha Tri Wahyuni | 9 Oktober 2026, 10:10 WIB
Indonesia Bidik Investasi AI hingga Pusat Data dari China
Indonesia membidik investasi AI dan pusat data dari China lewat GDTE 2026. Delapan MoU diperkirakan menghasilkan investasi USD400 juta. - Dok. Kemenko Ekonomi

AKURAT.CO Indonesia memanfaatkan keikutsertaannya sebagai Negara Kehormatan pada gelaran Global Digital Trade Expo (GDTE) 2026 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China, untuk membidik investasi di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) hingga pusat data.

Forum perdagangan digital yang berlangsung pada 23-27 September 2026 tersebut tidak hanya menjadi ajang Indonesia memperkenalkan perkembangan ekonomi digital.

Sejumlah agenda dalam rangkaian GDTE juga menghasilkan kerja sama investasi dan membuka peluang pengembangan ekosistem AI di Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto mengatakan, kehadiran Indonesia di GDTE 2026 menjadi momentum untuk mengeksplorasi perkembangan teknologi AI sekaligus memperluas kerja sama perdagangan digital lintas negara.

Baca Juga: Perbedaan AI dan AGI: Teknologi Kecerdasan Buatan Yang Mengubah Masa Depan Indonesia

Indonesia diwakili delegasi Digital Transformation Indonesia (DTI Community) yang terdiri atas perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Smart City (JSC), serta sejumlah asosiasi, seperti Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) dan Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO).

GDTE 2026 mengusung slogan "Meet the AI Future at GDTE" dan mempertemukan peserta dari 121 negara.

Acara tersebut dibuka Perdana Menteri China Li Qiang, kemudian dilanjutkan dengan pidato Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Ketua Kabinet Menteri Kirgistan Adylbek Kasymaliev.

Bagi Indonesia, forum tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama di bidang AI. Indonesia merupakan salah satu pendiri World AI Collaboration Organization (WAICO), yang diarahkan untuk memperkuat kolaborasi internasional serta investasi terkait AI.

Baca Juga: Hukum Menikah dengan Kecerdasan Buatan dalam Islam

"Nilai investasi yang diperkirakan terkait dengan kerja sama tersebut mencapai USD8 miliar hingga USD12 miliar pada periode 2026-2030," ujar Haryo dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Selain kerja sama investasi, Indonesia dan mitra internasional juga mendorong pengembangan talenta serta pemanfaatan teknologi AI. Kerja sama antarpemerintah mencakup pelatihan bagi institusi pemerintahan, pemanfaatan AI berbasis open source, hingga pertukaran praktik terbaik.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.