Investor Kaya Dunia Kembali Memburu Saham, Hampir Separuh Tambah Eksposur Ekuitas Publik

AKURAT.CO Ketika ketidakpastian ekonomi dan geopolitik belum sepenuhnya mereda, investor dengan kekayaan besar justru kembali menambah porsi saham dalam portofolionya. Fenomena ini terlihat dari laporan Citi Wealth yang menunjukkan hampir separuh family office global meningkatkan eksposur terhadap ekuitas publik sepanjang 2026.
Temuan tersebut menarik karena family office tidak dikenal hanya mengandalkan satu kelas aset. Mereka mengelola portofolio yang dapat mencakup saham, obligasi, kas, private equity hingga investasi langsung. Karena itu, peningkatan eksposur saham tidak serta-merta berarti investor kaya meninggalkan aset privat.
Laporan Global Family Office Report 2026 dari Citi Wealth menunjukkan pasar saham kembali memperoleh tempat penting dalam strategi alokasi modal keluarga kaya. Ekuitas publik menawarkan kombinasi pertumbuhan, likuiditas, dan fleksibilitas yang menjadi semakin relevan ketika investor harus menghadapi lingkungan pasar yang berubah cepat.
Baca Juga: BEI Dorong Kepercayaan Investor Global Lewat Reformasi Pasar Modal
Baca Juga: OJK Dorong Dana Pensiun Jadi Investor Jangka Panjang
Mengapa family office kembali menambah ekuitas publik?
Secara sederhana, hampir separuh family office yang disurvei Citi Wealth meningkatkan eksposur terhadap ekuitas publik pada tahun ini. Pada saat yang sama, ekuitas negara maju menjadi kelas aset yang paling disukai untuk alokasi bersih di masa depan.
Ada dua hal penting dari temuan tersebut. Pertama, saham kembali dipandang sebagai salah satu saluran untuk mendapatkan pertumbuhan. Kedua, karakter pasar publik memungkinkan family office mengubah posisi dengan relatif lebih fleksibel dibandingkan aset yang membutuhkan komitmen modal dalam jangka panjang.
Laporan Citi Wealth menyebut pasar terbuka mendapatkan kembali momentumnya karena investor mencari kombinasi pertumbuhan, likuiditas, dan fleksibilitas. Artinya, keputusan menambah saham tidak hanya berkaitan dengan ekspektasi kenaikan harga, tetapi juga fungsi saham dalam keseluruhan struktur portofolio.
Secara global, hampir 90% responden melaporkan kinerja portofolio positif secara year-to-date. Namun, investor tetap memasang ekspektasi yang relatif terukur. Sebanyak 41% responden masih menargetkan imbal hasil tahunan sebesar 7% hingga 10%.
Angka tersebut memberikan konteks penting. Family office memang kembali meningkatkan eksposur saham, tetapi langkah tersebut tidak otomatis menggambarkan perilaku spekulatif. Mereka tetap mempertahankan target return yang terukur dan portofolio yang terdiversifikasi.
Baca Juga: AI Ubah Wajah Wealth Management: Dari Layanan Eksklusif Jadi Inklusif untuk Semua Kalangan
Baca Juga: OJK Arahkan Inovasi Keuangan Digital Lindungi dan Bermanfaat bagi Masyarakat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 3Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat




