Dorong IPO, BEI Libatkan Grup dan Induk Usaha dari Berbagai Sektor
Hefriday | 22 Mei 2025, 14:24 WIB

AKURAT.CO Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menjalankan kajian strategis guna mendorong peningkatan jumlah perusahaan yang melantai di pasar modal melalui skema Initial Public Offering (IPO).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendanaan bagi sektor usaha sekaligus memperkuat ekosistem pasar modal Indonesia.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa kajian tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan yang belum pernah melakukan IPO hingga perusahaan yang sudah berpengalaman melakukannya.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa kajian tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan yang belum pernah melakukan IPO hingga perusahaan yang sudah berpengalaman melakukannya.
Tujuan utamanya adalah untuk memetakan tantangan serta peluang dalam proses IPO di Indonesia.
"Kami juga melibatkan grup usaha atau induk perusahaan dari berbagai sektor yang selama ini belum menggunakan pasar modal sebagai sumber pendanaan," ungkap Nyoman di Jakarta, Kamis (22/5/2025).
"Kami juga melibatkan grup usaha atau induk perusahaan dari berbagai sektor yang selama ini belum menggunakan pasar modal sebagai sumber pendanaan," ungkap Nyoman di Jakarta, Kamis (22/5/2025).
Baca Juga: Menilik Prospek IPO Bank DKI di 2025
Selain menggali potensi dari perusahaan-perusahaan baru, BEI juga mengumpulkan pengalaman dari emiten yang sudah IPO sebelumnya.
Selain menggali potensi dari perusahaan-perusahaan baru, BEI juga mengumpulkan pengalaman dari emiten yang sudah IPO sebelumnya.
Hal ini dilakukan untuk memahami proses yang mereka jalani serta mencari masukan terkait hambatan regulasi, teknis, maupun administratif yang mereka temui.
Menurut Nyoman, kajian tersebut dilakukan dengan menjaga anonimitas responden. Langkah ini bertujuan untuk menjamin objektivitas dan independensi dalam proses pengumpulan dan analisis data, sehingga hasil yang diperoleh dapat merepresentasikan kondisi riil secara menyeluruh.
Meski belum dapat menyampaikan hasil kajian secara terbuka, BEI menyatakan akan mengungkapkannya kepada publik setelah proses analisis selesai. Hasil tersebut akan menjadi landasan penyusunan kebijakan serta penyempurnaan regulasi yang lebih efektif ke depannya.
"Masukan yang kami terima sangat beragam, mulai dari peraturan yang dianggap memberatkan, proses IPO yang panjang, hingga kondisi ekosistem pasar modal yang belum optimal. Semua ini kami catat sebagai masukan berharga," ujar Nyoman.
Nyoman menekankan bahwa BEI berkomitmen merumuskan kebijakan yang berbasis pada data dan masukan dari pemangku kepentingan. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan nantinya mampu menjawab tantangan aktual dan mendukung pertumbuhan pasar modal secara berkelanjutan.
Sebagai informasi, per 16 Mei 2025, terdapat 29 perusahaan yang tengah berada dalam antrean IPO di BEI. Dari jumlah tersebut, tiga perusahaan berasal dari kategori aset kecil dengan nilai di bawah Rp50 miliar.
Menurut Nyoman, kajian tersebut dilakukan dengan menjaga anonimitas responden. Langkah ini bertujuan untuk menjamin objektivitas dan independensi dalam proses pengumpulan dan analisis data, sehingga hasil yang diperoleh dapat merepresentasikan kondisi riil secara menyeluruh.
Meski belum dapat menyampaikan hasil kajian secara terbuka, BEI menyatakan akan mengungkapkannya kepada publik setelah proses analisis selesai. Hasil tersebut akan menjadi landasan penyusunan kebijakan serta penyempurnaan regulasi yang lebih efektif ke depannya.
"Masukan yang kami terima sangat beragam, mulai dari peraturan yang dianggap memberatkan, proses IPO yang panjang, hingga kondisi ekosistem pasar modal yang belum optimal. Semua ini kami catat sebagai masukan berharga," ujar Nyoman.
Nyoman menekankan bahwa BEI berkomitmen merumuskan kebijakan yang berbasis pada data dan masukan dari pemangku kepentingan. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan nantinya mampu menjawab tantangan aktual dan mendukung pertumbuhan pasar modal secara berkelanjutan.
Sebagai informasi, per 16 Mei 2025, terdapat 29 perusahaan yang tengah berada dalam antrean IPO di BEI. Dari jumlah tersebut, tiga perusahaan berasal dari kategori aset kecil dengan nilai di bawah Rp50 miliar.
Sementara itu, 17 perusahaan masuk kategori menengah dengan aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, dan sembilan perusahaan tergolong besar dengan aset di atas Rp250 miliar.
Antusiasme perusahaan untuk melakukan IPO menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia terus menjadi alternatif menarik bagi dunia usaha dalam menghimpun dana.
Antusiasme perusahaan untuk melakukan IPO menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia terus menjadi alternatif menarik bagi dunia usaha dalam menghimpun dana.
Namun demikian, BEI menyadari masih banyak tantangan yang harus diatasi agar proses IPO menjadi lebih efisien dan inklusif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 10Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu









