Akurat

Bitcoin Balik ke Tren Bullish, Apa Sebabnya?

Hefriday | 16 Maret 2025, 19:58 WIB
Bitcoin Balik ke Tren Bullish, Apa Sebabnya?

AKURAT.CO Pasar kripto kembali menunjukkan volatilitas tinggi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat yang turun ke level 2,8% pada Februari 2025.

Penurunan inflasi ini langsung direspons positif oleh investor, mendorong harga Bitcoin (BTC) melonjak ke level USD83.371.

Optimisme bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga semakin menguat, memberikan dorongan besar bagi pasar kripto.

Menurut analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, penurunan CPI ini meningkatkan ekspektasi pasar bahwa kebijakan moneter AS akan lebih longgar dalam beberapa bulan mendatang.

"Baik secara keseluruhan maupun inti, inflasi mengalami penurunan. Ini menjadi faktor positif bagi aset berisiko seperti kripto. Selain itu, nilai tukar dolar AS terhadap yen juga melemah, yang semakin memperkuat harga Bitcoin," ujar Fyqieh dalam keterangannya, Minggu (16/3/2025).

Baca Juga: Bitcoin, Solana, dan BNB, Tiga Koin Kripto yang Wajib Dipahami

Data dari CME FedWatch menunjukkan bahwa para investor semakin yakin bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada akhir tahun ini.

Kebijakan ini berpotensi mendorong lebih banyak likuiditas masuk ke aset berisiko, termasuk Bitcoin dan altcoin lainnya.

Jika ekspektasi ini terus terjaga, kemungkinan besar harga BTC akan terus mengalami tren kenaikan dalam beberapa bulan mendatang.

Bitcoin saat ini berada dalam siklus yang berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Biasanya, setelah halving Bitcoin yang mengurangi jumlah BTC baru yang masuk ke pasar harga mengalami lonjakan signifikan.

Namun, kali ini, faktor makroekonomi memainkan peran lebih besar dalam pergerakan harga dibandingkan sekadar mekanisme pasar kripto itu sendiri.

Jika melihat pola historis, pada siklus 2012-2016 dan 2016-2020, harga Bitcoin cenderung melonjak secara agresif setelah halving.

Namun, siklus 2020-2024 tampaknya lebih moderat, dengan kenaikan yang lebih stabil dibandingkan lonjakan tajam di masa lalu.

Salah satu faktor utama yang membedakan adalah keterlibatan investor institusional, yang menjadikan Bitcoin lebih sebagai aset investasi jangka panjang dibandingkan sekadar spekulasi ritel.

Menurut Fyqieh, indikator on-chain seperti rasio MVRV Pemegang Jangka Panjang (LTH) menunjukkan bahwa keuntungan yang belum direalisasi di antara pemegang Bitcoin jangka panjang semakin menurun.

Ini bisa mengindikasikan bahwa reli kali ini lebih terkendali dan tidak sebesar lonjakan parabola yang pernah terjadi sebelumnya.

Selain faktor ekonomi, kondisi politik juga mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin.

Sikap pro-kripto dari beberapa pemimpin politik di AS, termasuk mantan Presiden Donald Trump, serta meningkatnya adopsi Bitcoin di tingkat negara bagian, menjadi variabel yang turut mempengaruhi sentimen pasar.

Di sisi lain, White House Crypto Summit yang baru saja digelar tidak memberikan dampak besar terhadap harga Bitcoin.

Meskipun demikian, langkah-langkah regulasi yang lebih jelas dari pemerintah AS dapat memberikan kepastian bagi investor institusional untuk semakin terlibat dalam ekosistem kripto.

Secara teknikal, Bitcoin baru saja menembus level psikologis USD80.000 setelah sebelumnya turun ke titik terendah USD76.555 pada awal Februari.

Pergerakan harga saat ini membentuk pola segitiga naik, yang secara historis dapat menjadi sinyal bullish. Jika BTC berhasil menembus resistensi di USD84.000, target berikutnya bisa mencapai USD86.750 dalam waktu dekat.

Namun, jika harga turun di bawah USD81.000, tren bullish bisa berisiko batal dan berpotensi membawa BTC kembali ke zona support yang lebih rendah.

Para analis merekomendasikan investor untuk menerapkan strategi konservatif dengan menunggu konfirmasi penembusan sebelum mengambil posisi long yang lebih besar.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa