Reli Bitcoin Kian Kuat di Akhir 2025, Kontrak Opsi Jumbo Jadi Sorotan

AKURAT.CO Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan performa bullish yang solid menjelang akhir 2025. Aset kripto terbesar di dunia itu bergerak mendekati level psikologis USD90.000 pada momen Boxing Day, 26 Desember, seiring dengan sentimen positif yang juga mengangkat harga emas dan perak ke rekor tertinggi baru.
Data TradingView mencatat pasangan BTC/USD menguat lebih dari 2% pada perdagangan Jumat (26/12/2025). Momentum kenaikan ini bahkan mampu dipertahankan hingga sesi Asia, menandakan minat beli yang masih cukup kuat meski pasar global berada dalam fase libur akhir tahun.
Reli Bitcoin kali ini terjadi menjelang berakhirnya kontrak opsi (options expiry) bernilai jumbo, dengan total nilai hampir USD24 miliar.
Baca Juga: Insiden Flash Crash Bitcoin di Binance Ungkap Tingginya Risiko Pasangan Trading Likuiditas Tipis
Para pelaku pasar menilai berakhirnya kontrak derivatif tersebut menjadi peluang bagi Bitcoin untuk bergerak lebih bebas dan mencerminkan permintaan riil di pasar spot.
Dikutip dari X, Minggu (28/12/2025) Trader kripto BitBull menjelaskan selama periode kontrak opsi aktif, pergerakan harga kerap tertahan oleh tekanan lindung nilai atau hedging.
Market maker harus menyeimbangkan risiko dengan mengambil posisi di pasar spot, sehingga volatilitas harga cenderung teredam.
“Setelah kontrak tersebut berakhir, aksi harga kembali mencerminkan posisi riil, bukan lagi dinamika derivatif. Saat itulah arah pasar biasanya menjadi lebih jelas,” ujar BitBull dalam unggahan di platform media sosial X. Ia menilai pergerakan Bitcoin sebelumnya kurang organik karena dominasi pasar opsi.
Sentimen positif juga datang dari analis kripto sekaligus pengusaha, Michaël van de Poppe. Ia memperkirakan kondisi pasar kripto akan membaik setelah pergantian tahun, seiring dengan realokasi dana yang lazim dilakukan oleh manajer aset pada Januari.
Baca Juga: Bitcoin Masih Tertolong Efek Trump Trade di Tengah Tekanan Kripto Winter
Menurut Van de Poppe, pilihan investasi ke depan semakin terbatas. Komoditas dinilai rawan koreksi setelah reli panjang, sementara saham teknologi telah melonjak tinggi dengan risiko yang kian besar. Dalam kondisi tersebut, kripto dan Bitcoin dinilai menjadi alternatif yang menarik.
Dirinya juga menyoroti kinerja emas dan perak yang kembali mencetak rekor tertinggi. Bahkan, perak sempat melampaui kapitalisasi pasar Bitcoin dan menempati posisi aset terbesar ketiga dunia, setelah emas dan Nvidia, berdasarkan data pemeringkatan Infinite Market Cap.
Meski mendekati USD90.000, pergerakan jangka pendek Bitcoin masih dinilai berada dalam fase konsolidasi atau rangebound.
Lonjakan harga terbaru memicu likuidasi lebih dari USD200 juta dalam 24 jam terakhir, menurut data CoinGlass, mencerminkan ketatnya persaingan posisi long dan short.
Akun analisis Crypto Ideology menekankan pentingnya penutupan harga harian untuk mengonfirmasi arah selanjutnya. Menurutnya, konfirmasi breakout dapat membuka jalan menuju area USD95.000 sebagai ujian utama berikutnya.
“Jika harga mampu bertahan di atas USD95.000, potensi penguatan bisa berlanjut menuju weekly moving average 50 di sekitar USD100.000,” tulisnya. Saat ini, SMA 50 hari dan EMA 50 hari Bitcoin berada di kisaran USD1.000–92.000.
Van de Poppe menyimpulkan bahwa pasar kripto saat ini masih tergolong undervalued dan salah harga. Ia menilai kembalinya likuiditas global dalam beberapa bulan ke depan berpotensi membawa Bitcoin kembali menguji rekor tertinggi sepanjang masa.
Pergerakan Bitcoin di penghujung 2025 menegaskan semakin eratnya hubungan antara pasar spot dan derivatif. Berakhirnya kontrak opsi bernilai besar kerap menjadi momen krusial, karena tekanan hedging dilepas dan harga lebih mencerminkan sentimen fundamental. Kondisi ini memperkuat posisi Bitcoin sebagai kelas aset yang kian matang di mata investor global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










