Peretasan Jadi Alasan Gangguan Kedua, Keandalan Cloudflare Dipertanyakan

AKURAT.CO Cloudflare kembali mengalami gangguan pada Jumat (5/12/2025) yang membuat banyak layanan internet tidak bisa diakses. Zoom, Canva dan berbagai platform global lainnya ikut terdampak karena menggunakan infrastruktur Cloudflare.
Perusahaan ini berperan menjaga kestabilan dan keamanan situs, termasuk melindungi dari lonjakan trafik dan serangan siber. Karena itulah, ketika sistem Cloudflare bermasalah, banyak layanan langsung menampilkan pesan error di situs maupun aplikasinya.
Insiden ini menjadi gangguan kedua dalam satu bulan terakhir setelah kejadian serupa pada 18 November. Cloudflare menyampaikan permintaan maaf karena gangguan berulang tidak seharusnya terjadi dalam waktu berdekatan.
"Insiden seperti ini, apalagi terjadi dalam waktu berdekatan, sangat tidak pantas terjadi di layanan yang kami berikan," tulis Cloudflare dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (6/12/2025).
Cloudflare menegaskan bahwa gangguan ini disebabkan peretasan oleh akibat penyesuaian firewall untuk menutup celah keamanan perangkat lunak. Sebelumnya, Cloudflare juga menghadapi masalah pada API yang menjadi penghubung antara sistem dan aplikasi pelanggan.
Untuk sementara, Cloudflare menahan perubahan besar pada sistem sampai ada langkah pencegahan yang benar-benar aman. Cloudflare juga menyiapkan rencana perbaikan jangka panjang dan sudah berkomunikasi langsung dengan banyak pelanggan yang terdampak.
Keandalan Cloudflare Jadi Sorotan
Ahli keamanan University College London, Steven Murdoch, menilai dua gangguan berdekatan bisa membuat pelanggan mempertimbangkan ulang. Ia menyebut kekhawatiran tersebut wajar, meski belum jelas apakah ini masalah sistemik atau sekadar kebetulan.
Cloudflare selama ini dikenal menawarkan kecepatan, stabilitas dan perlindungan DDoS dalam satu layanan. Sekitar 20 persen situs dunia menggunakan platform ini dan jumlah pelanggan mereka mencapai ratusan ribu di lebih dari 100 negara.
Perusahaan mengklaim memblokir miliaran serangan siber setiap hari dan menghasilkan pendapatan ratusan juta dollar per kuartal. Namun, rangkaian gangguan besar dalam beberapa bulan terakhir, termasuk insiden AWS pada Oktober, menimbulkan kekhawatiran baru.
Pakar infrastruktur internet, Michal Wozniak, menilai gangguan pada perusahaan teknologi besar menunjukkan rentannya fondasi internet modern. Ketika layanan seperti Cloudflare atau AWS bermasalah, dampaknya langsung dirasakan secara global.
Ia menilai kejadian ini seperti teguran keras bagi anggapan bahwa perusahaan besar selalu paling aman. Skala besar justru membuat kerusakan lebih luas ketika terjadi kegagalan.
Murdoch menilai gangguan besar terkadang justru menunjukkan betapa pentingnya peran sebuah perusahaan. Ia menyebut insiden ini memperlihatkan banyaknya layanan yang bergantung pada Cloudflare, sehingga menegaskan posisi dalam ekosistem internet global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK






