Mengenal Komputasi Kuantum, Ini Manfaat dan Resikonya Bagi Sejumlah Sektor

AKURAT.CO Komputasi kuantum menjadi topik hangat di platform X sepanjang minggu ini, menyusul laporan terbaru tentang terobosan signifikan dalam aplikasi dunia nyata.
Menurut unggahan dari akun teknologi TechCrunch, perusahaan seperti Google, IBM, dan Microsoft telah mencatat kemajuan dalam pengembangan algoritma tahan kuantum (post-quantum cryptography).
Komputasi kuantum, yang memanfaatkan prinsip mekanika kuantum untuk memproses data jauh lebih cepat daripada komputer tradisional, dianggap sebagai game-changer.
Tidak seperti komputer konvensional yang menggunakan bit (0 atau 1), komputer kuantum menggunakan qubit yang dapat berada dalam kombinasi 0 dan 1 secara bersamaan, memungkinkan pemrosesan data yang sangat cepat untuk masalah kompleks.
Di X, pengguna membagikan informasi bahwa teknologi ini berpotensi merevolusi bidang seperti penemuan obat, optimasi logistik, dan simulasi material.
Salah satu unggahan populer menyebutkan bahwa komputasi kuantum dapat memangkas waktu pengisian kendaraan listrik dari 20 menit menjadi beberapa detik di stasiun pengisian cepat.
Pengguna X juga membagikan contoh aplikasi praktis, seperti simulasi kimia untuk pengembangan obat baru dan optimalisasi portofolio keuangan, yang dapat mengurangi risiko pasar secara drastis.
Investasi di sektor ini juga menjadi sorotan. Pada 2024, startup komputasi kuantum menerima pendanaan sebesar $1,7 miliar, dan tren ini diperkirakan meningkat pada 2025, seiring deklarasi PBB bahwa tahun ini adalah Tahun Internasional Sains dan Teknologi Kuantum.
Dengan semakin banyaknya perusahaan yang mengintegrasikan teknologi ini, 2025 diperkirakan menjadi tahun kritis bagi perkembangan komputasi kuantum, baik dalam inovasi maupun regulasi untuk memastikan keamanan digital global.
Potensi Revolusioner atau Ancaman Baru?
Di balik antusiasme, diskusi di X juga menyoroti tantangan besar. Banyak pengguna mengungkapkan kekhawatiran bahwa komputer kuantum dapat mengancam sistem enkripsi saat ini, seperti yang digunakan dalam perbankan dan keamanan data.
Hal itu memicu kekhawatiran tentang dampaknya terhadap keamanan siber global. Sebuah unggahan viral menyebutkan bahwa “90% konten internet mungkin akan terdeteksi sebagai ancaman jika enkripsi tradisional gagal,” merujuk pada laporan Europol Innovation Lab.
Meski demikian, optimisme tetap tinggi.
Perusahaan teknologi besar seperti Google dan IBM dilaporkan sedang berlomba mengembangkan algoritma tahan kuantum untuk mengatasi risiko ini.
Di X, para profesional teknologi dan penggemar sains berdebat tentang kesiapan infrastruktur global untuk mengadopsi teknologi ini, dengan beberapa menyatakan bahwa “kita masih 5-10 tahun lagi dari aplikasi kuantum yang benar-benar mainstream."
Namun, tantangan teknis seperti kekurangan chip dan biaya pengembangan yang tinggi masih menjadi hambatan utama, seperti yang diungkapkan dalam laporan dari Exploding Topics.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








