Habiburokhman: Kebebasan Berekspresi Meningkat di Era Prabowo-Gibran

AKURAT.CO Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menilai, kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat di muka umum semakin terbuka selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ia mengklaim tindakan represif aparat dalam menangani penyampaian pendapat di muka umum mengalami penurunan signifikan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai kemunduran demokrasi dan menguatnya otoritarianisme tidak terbukti.
Pernyataan itu disampaikan Habiburokhman dalam evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran yang jatuh pada 20 Oktober 2026.
“Transformasi regulasi yang menempatkan warga negara sebagai subjek utama ini tercermin nyata dalam praktik demokrasi sehari-hari. Kekhawatiran sebagian kalangan di awal pemerintahan mengenai potensi kemunduran demokrasi dan menguatnya otoritarianisme terbukti tidak beralasan. Sebaliknya, di era pemerintahan Presiden Prabowo, tindakan represif aparat terkait penyampaian pendapat di muka umum justru menurun secara sangat signifikan,” kata Habiburokhman dalam keterangan tertulis, Minggu (25/10/2026).
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu juga menilai masyarakat masih memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah, baik di ruang publik maupun media sosial.
Menurutnya, kritik telah menjadi bagian dari kehidupan demokrasi sehari-hari.
Habiburokhman turut menyoroti sikap Presiden Prabowo dalam menghadapi kritik, termasuk pernyataan yang dinilai menyerang atau menghina dirinya secara pribadi.
“Bahkan, di ruang publik maupun jagat media sosial, tidak jarang muncul lontaran pernyataan yang dinilai menyerang dan menghina pribadi Presiden Prabowo secara terlalu kasar serta melampaui batas-batas etika. Namun, puji Habiburokhman, Presiden menunjukkan sikap kenegarawanan yang matang; tidak satu pun dari para pengkritik tersebut yang dikriminalisasi atau dikenakan hukuman,” tuturnya.
Selain kebebasan berekspresi, Habiburokhman menilai pendekatan aparat keamanan dalam menangani unjuk rasa juga mengalami perubahan.
Ia menyebut pendekatan persuasif dan dialogis kini lebih dikedepankan dibandingkan tindakan represif.
“Wajah aparat keamanan dalam menangani aksi unjuk rasa pun berubah jauh lebih humanis dengan mengedepankan pendekatan persuasif dan dialogis, sehingga nyaris tidak ada lagi insiden kekerasan terhadap para pengunjuk rasa,” ujarnya.
Baca Juga: Pemuda Palembang Kawal Asta Cita Prabowo-Gibran Lewat Hilirisasi dan Transisi Energi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 4Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 5Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 6Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 750 Contoh Ucapan Hari Santri 2026 Terbaru, Singkat dan Penuh Makna
- 8Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot










