Belajar dari Kasus Petugas SPBU Bali dan Pentingnya Hak Self-Care dalam Islam

AKURAT.CO Sebuah peristiwa yang melibatkan petugas SPBU di Bali kembali mengingatkan kita bahwa di balik seragam kerja dan tuntutan pelayanan, ada manusia yang memiliki batas tenaga, emosi, dan kemampuan. Dalam dunia kerja yang sering menempatkan kecepatan dan target sebagai ukuran utama, persoalan kesehatan fisik dan mental pekerja terkadang justru berada di urutan belakang.
Kasus tersebut semestinya tidak hanya dilihat sebagai persoalan antara pekerja dan perusahaan. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana seseorang memiliki hak untuk beristirahat, menjaga kondisi tubuh, dan memulihkan dirinya setelah menjalankan pekerjaan?
Islam sejak awal telah memberikan perhatian terhadap keseimbangan kehidupan manusia. Tubuh bukan sesuatu yang boleh dipaksa tanpa batas. Rasulullah SAW bahkan pernah mengingatkan Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang terlalu berlebihan dalam ibadah hingga mengabaikan kebutuhan tubuh dan keluarganya.
Nabi SAW bersabda:
إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
“Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya.” (HR. Bukhari).
Baca Juga: Cara Islami bagi Gen Z dalam Menyeimbangkan Usaha Maksimal dan Tawakkul di Tengah Ketidakpastian
Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan pekerja masa kini. Bekerja memang merupakan bagian dari tanggung jawab, tetapi menjaga diri juga merupakan tanggung jawab. Seseorang tidak seharusnya merasa bersalah hanya karena membutuhkan waktu untuk tidur, makan dengan baik, beristirahat, beribadah dengan tenang, atau memulihkan kondisi psikologisnya.
Konsep self-care dalam perspektif Islam karena itu tidak identik dengan memanjakan diri. Self-care dapat dipahami sebagai ikhtiar menjaga amanah Allah berupa tubuh, akal, jiwa, dan kehidupan yang diberikan kepada manusia.
Al-Qur'an mengingatkan:
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)
Ayat tersebut memberikan prinsip perlindungan terhadap diri manusia. Dalam konteks kehidupan kerja, prinsip itu dapat menjadi pengingat bahwa keselamatan dan kesehatan pekerja tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.
Tentu, bekerja dengan profesional tetap menjadi kewajiban. Seorang pekerja harus menjalankan tugas sesuai kesepakatan, disiplin, dan tidak meninggalkan tanggung jawab begitu saja. Namun, profesionalisme tidak berarti seseorang harus mengabaikan kondisi dirinya. Begitu pula perusahaan tidak semestinya membangun budaya kerja yang menganggap kelelahan sebagai tanda loyalitas.
Islam mengenal prinsip keseimbangan. Produktivitas penting, tetapi kesehatan juga penting. Target perusahaan penting, tetapi keselamatan pekerja tidak boleh dikorbankan. Pelayanan kepada pelanggan harus baik, tetapi pekerja tetap memiliki martabat sebagai manusia.
Dari kasus petugas SPBU Bali, masyarakat juga dapat belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi pekerja ketika melihat sebuah peristiwa yang viral. Kita sering hanya melihat beberapa detik rekaman, sementara tidak mengetahui apa yang terjadi sebelum kamera menyala. Tabayyun tetap diperlukan agar persoalan tidak berkembang menjadi penghakiman di ruang digital.
Pada saat yang sama, perusahaan perlu melihat persoalan ketenagakerjaan secara lebih manusiawi. Jadwal kerja, waktu istirahat, beban pekerjaan, keselamatan, dan kondisi psikologis pekerja merupakan bagian dari ekosistem kerja yang harus diperhatikan.
Baca Juga: Said Aqil Siroj Luncurkan 11 Jilid Buku Historiografi Islam Nusantara di Surabaya
Self-care dalam Islam pada akhirnya bukan ajakan untuk menjadi malas. Justru sebaliknya, seseorang menjaga dirinya agar mampu menjalankan amanah dengan lebih baik. Tubuh yang cukup istirahat akan lebih siap bekerja, pikiran yang sehat lebih mampu mengambil keputusan, dan jiwa yang tenang lebih mudah memberikan pelayanan secara baik.
Maka, bekerja keras memang baik. Tetapi bekerja sampai kehilangan kesehatan bukanlah ukuran keberhasilan. Islam mengajarkan manusia untuk bekerja dengan amanah sekaligus memperlakukan dirinya sendiri dengan penuh tanggung jawab.
Sebab, pekerja bukan sekadar tenaga yang dibutuhkan untuk mencapai target. Ia adalah manusia yang juga memiliki hak untuk hidup sehat, beristirahat, dihormati, dan diperlakukan secara adil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang



