Akurat Logo

Jangan Asal Klik dan Share! Begini Panduan Tabayyun dalam Islam saat Menghadapi Berita Viral

Lufaefi | 5 Oktober 2026, 06:10 WIB
Jangan Asal Klik dan Share! Begini Panduan Tabayyun dalam Islam saat Menghadapi Berita Viral
Menyikapi berita viral dalam Islam - AI

AKURAT.CO Berita viral sering kali menyebar lebih cepat daripada proses pemeriksaan kebenarannya. Satu unggahan dapat dibagikan ribuan kali hanya dalam hitungan menit, meskipun informasi di dalamnya belum tentu benar. Karena itu, sebelum menekan tombol share, penting bagi setiap Muslim untuk memastikan informasi yang diterima tidak menyesatkan atau merugikan orang lain.

Dalam Islam, sikap memeriksa kebenaran informasi dikenal dengan istilah tabayyun. Prinsip ini ditegaskan Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā’akum fāsiqun binaba’in fatabayyanū an tuṣībū qauman bijahālatin fa tuṣbiḥū ‘alā mā fa‘altum nādimīn.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya membuat kamu menyesali perbuatanmu.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa informasi tidak boleh diterima begitu saja, terlebih jika berpotensi menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Semangat tabayyun menjadi semakin relevan di era media sosial, ketika siapa pun dapat menyebarkan informasi tanpa melalui proses penyuntingan atau verifikasi.

Baca Juga: Doa saat Overthinking, Memohon Petunjuk Allah agar Diberi Jalan Terbaik dalam Hidup

Periksa sumber sebelum membagikan

Langkah pertama adalah memeriksa asal informasi. Perhatikan siapa yang menyampaikan berita, apakah berasal dari media atau lembaga yang jelas, serta apakah unggahan tersebut menyertakan sumber yang dapat ditelusuri.

Jika informasi hanya beredar melalui tangkapan layar, pesan berantai, atau akun anonim, jangan buru-buru menganggapnya sebagai fakta. Cari pemberitaan dari sumber lain yang kredibel untuk melihat apakah informasi serupa juga telah dikonfirmasi.

Jangan hanya membaca judul

Judul yang provokatif sering digunakan untuk menarik perhatian dan mendorong orang membagikan suatu unggahan. Padahal, isi berita bisa saja tidak sepenuhnya sesuai dengan judul.

Karena itu, baca informasi secara utuh. Periksa tanggal publikasi, konteks peristiwa, serta pernyataan narasumber. Foto atau video lama juga dapat kembali beredar dengan keterangan baru sehingga menimbulkan pemahaman yang keliru.

Tahan diri ketika informasi memancing emosi

Berita yang memicu kemarahan, ketakutan, atau kebencian sering membuat seseorang ingin segera bereaksi. Dalam keadaan emosional, orang lebih mudah membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.

Islam mengingatkan agar setiap perkataan dan tindakan dipertanggungjawabkan. Allah berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm. Inna as-sam‘a wal-baṣara wal-fu’āda kullu ulā’ika kāna ‘anhu mas’ūlā.

Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa informasi yang didengar, dilihat, dan diyakini bukan sesuatu yang bebas dari tanggung jawab. Membagikan kabar yang belum jelas kebenarannya juga dapat menjadi bagian dari persoalan tersebut.

Ingat, menyebarkan kabar juga memiliki konsekuensi

Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

  • Kafā bil-mar’i kadziban an yuḥadditsa bikulli mā sami‘a.*

Artinya: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.”

Baca Juga: Doa saat Merasa Lelah Menjalani Kehidupan, Memohon Kekuatan dan Ketenangan kepada Allah

Hadis ini mengajarkan agar seseorang tidak menjadi penyambung setiap kabar yang sampai kepadanya. Tidak semua informasi harus diteruskan, terutama jika kebenarannya belum dapat dipastikan.

Pada akhirnya, tabayyun bukan sekadar kebiasaan memeriksa fakta, melainkan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim dalam berkomunikasi. Menahan diri untuk tidak membagikan berita yang belum terverifikasi dapat mencegah fitnah, kesalahpahaman, dan kerugian bagi orang lain.

Di tengah derasnya arus informasi, terkadang tindakan paling bijak bukan menjadi orang pertama yang membagikan berita, melainkan menjadi orang yang memastikan kebenarannya terlebih dahulu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi