Akurat Logo

Pencitraan vs Keberkahan: Menakar Fenomena Viral Joki Buku dalam Pandangan Islam tentang Kejujuran

Lufaefi | 8 Oktober 2026, 07:30 WIB
Pencitraan vs Keberkahan: Menakar Fenomena Viral Joki Buku dalam Pandangan Islam tentang Kejujuran
Ilustrasi Konten Joki Buku - Istimewa

AKURAT.CO Fenomena jasa "joki buku" kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya budaya membaca dan berbagai kampanye literasi di masyarakat. Di satu sisi, membaca buku menjadi simbol intelektualitas yang semakin populer.

Namun di sisi lain, muncul praktik ketika seseorang menggunakan jasa orang lain untuk membaca, merangkum, atau mengerjakan tugas yang seharusnya menjadi bagian dari proses belajarnya sendiri.

Fenomena tersebut menimbulkan pertanyaan penting dalam perspektif Islam. Apakah seseorang dapat disebut berilmu hanya karena mampu menunjukkan hasil tulisan yang baik? Ataukah keberkahan ilmu justru terletak pada proses yang jujur dalam memperolehnya?

Islam memberikan perhatian besar terhadap kejujuran. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 119:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang benar."

Kejujuran dalam Islam bukan hanya persoalan berbicara benar. Kejujuran juga menyangkut tindakan, tanggung jawab, dan kesesuaian antara apa yang ditampilkan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Baca Juga: Doa Hari Rabu, agar Rezeki Selalu Lancar dan Berkah

Dalam konteks pendidikan, seseorang yang menyerahkan tugas membaca atau menulis kepada "joki", kemudian mengaku bahwa pekerjaan tersebut merupakan hasil usahanya sendiri, menghadapi persoalan etika.

Masalahnya bukan sekadar siapa yang mengerjakan tugas tersebut, tetapi adanya ketidaksesuaian antara proses yang sebenarnya dengan hasil yang diklaim.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

"Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami." (HR. Muslim).

Hadis tersebut memberikan peringatan keras terhadap praktik penipuan. Dalam konteks akademik, kejujuran menjadi bagian penting karena pendidikan pada dasarnya bukan hanya mengejar nilai, melainkan membentuk kemampuan dan karakter seseorang.

Fenomena "joki buku" juga memperlihatkan adanya persoalan antara pencitraan dan substansi. Seseorang dapat terlihat rajin membaca karena mampu menunjukkan rangkuman atau tulisan yang menarik. Namun, apabila proses tersebut sepenuhnya dikerjakan orang lain, tampilan intelektual itu belum tentu mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Di era media sosial, persoalan tersebut menjadi semakin kompleks. Aktivitas membaca dapat dengan mudah dipublikasikan melalui foto buku, kutipan, atau unggahan tentang daftar bacaan. Membagikan aktivitas membaca tentu bukan sesuatu yang salah. Persoalan muncul ketika membaca hanya dijadikan alat membangun citra, sementara proses memahami ilmu tidak benar-benar dilakukan.

Islam mengingatkan bahwa nilai amal tidak hanya ditentukan oleh tampilan luarnya. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

"Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengingatkan bahwa aktivitas yang tampak baik tetap perlu disertai niat dan proses yang benar. Membaca karena ingin memperoleh ilmu tentu berbeda dengan membaca semata-mata agar terlihat intelektual di hadapan orang lain.

Namun demikian, menggunakan bantuan orang lain tidak selalu berarti melakukan kecurangan. Dalam proses belajar, seseorang boleh berdiskusi, meminta penjelasan, mengikuti bimbingan, atau meminta bantuan untuk memahami materi yang sulit. Perbedaannya terletak pada apakah bantuan tersebut membuat seseorang semakin mampu belajar secara mandiri atau justru menggantikan seluruh tanggung jawabnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi