Akurat Logo

Pria Ngaku Bertemu Allah di Jember, Apa Mungkin Bertemu Allah saat Masih Hidup?

Lufaefi | 22 September 2026, 10:00 WIB
Pria Ngaku Bertemu Allah di Jember, Apa Mungkin Bertemu Allah saat Masih Hidup?
Ayat Al-Qur'an - Istimewa

AKURAT.CO Pengakuan seorang pria asal Jember, Jawa Timur, yang menyebut pernah bertemu langsung dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW menjadi perhatian setelah videonya beredar di TikTok. Pria bernama Abdullah Arrosy alias Kiai Abdullah itu kemudian dilaporkan ke Polres Jember oleh warga dan sejumlah tokoh masyarakat.

Menurut keterangan kepolisian, konten tersebut sebelumnya telah dipantau setelah menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Upaya tabayun dan mediasi juga sempat dilakukan di Mapolsek Sumberbaru, tetapi tidak menemukan titik temu. Perkara tersebut kini masih dalam tahap penyelidikan dan polisi menyatakan akan meminta keterangan sejumlah ahli sebelum menentukan langkah selanjutnya.

Di luar persoalan hukum tersebut, muncul pertanyaan teologis yang lebih mendasar: apakah manusia mungkin bertemu atau melihat Allah SWT secara langsung ketika masih hidup di dunia?

Baca Juga: Hukum Berhubungan Intim dengan Sesama Laki-laki dalam Islam

Dalam perspektif akidah Islam, Al-Qur'an memberikan penjelasan yang sangat tegas mengenai keterbatasan penglihatan manusia terhadap Allah. Allah SWT berfirman:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu. Dialah Yang Mahahalus, Mahateliti.”

(QS Al-An'am: 103)

Ayat tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pembahasan teologi Islam mengenai ru'yatullah atau melihat Allah. Para ulama membedakan antara mengetahui, merasakan kedekatan spiritual, mengalami pengalaman batin, dan benar-benar melihat Allah dengan penglihatan secara langsung.

Al-Qur'an juga menggambarkan permintaan Nabi Musa AS ketika beliau memohon agar dapat melihat Allah. Allah berfirman:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا

“Dan ketika Musa datang untuk memenuhi janji Kami dan Tuhannya berfirman kepadanya, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Dia berfirman, ‘Engkau tidak akan mampu melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya, niscaya engkau dapat melihat-Ku.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, gunung itu hancur dan Musa pun jatuh pingsan.”

(QS Al-A'raf: 143)

Ayat ini menunjukkan keterbatasan manusia dalam melihat Allah di kehidupan dunia. Bahkan Nabi Musa AS, seorang nabi yang mendapat kedudukan istimewa dan berbicara langsung dengan Allah, tidak diberikan kemampuan untuk melihat-Nya secara langsung dalam kehidupan dunia.

Lalu bagaimana dengan kehidupan akhirat?

Dalam banyak penjelasan ulama Ahlussunnah, melihat Allah merupakan kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang beriman di akhirat. Al-Qur'an menyebutkan:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya.”

(QS Al-Qiyamah: 22–23)

Karena itu, pembahasan tentang ru'yatullah perlu ditempatkan dalam kerangka yang tepat. Melihat Allah sebagai kenikmatan ukhrawi tidak serta-merta berarti manusia dapat melihat Allah secara fisik dengan mata ketika masih hidup di dunia.

Bagaimana dengan pengalaman spiritual?

Dalam kehidupan keagamaan, seseorang memang dapat mengalami pengalaman batin yang sangat kuat. Seseorang dapat merasakan kedekatan dengan Allah, memperoleh ketenangan dalam ibadah, mengalami kekhusyukan yang mendalam, atau merasakan seolah-olah berada sangat dekat dengan-Nya.

Namun, pengalaman spiritual tersebut berbeda dengan klaim bahwa seseorang benar-benar melihat Allah secara langsung.

Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apa pun:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”

(QS Asy-Syura: 11)

Karena itu, dalam persoalan akidah, pengalaman pribadi tidak dapat dengan sendirinya menjadi dasar untuk menetapkan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip wahyu.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi