Akurat

5 Kontroversi Permadi Arya alias Abu Janda Terkait Islam dan Politik Kebangsaan

Fajar Rizky Ramadhan | 19 Oktober 2024, 07:00 WIB
5 Kontroversi Permadi Arya alias Abu Janda Terkait Islam dan Politik Kebangsaan

AKURAT.CO Permadi Arya, yang lebih dikenal sebagai Abu Janda, merupakan salah satu figur publik yang kerap menimbulkan kontroversi di Indonesia.

Ia aktif di media sosial, terutama Twitter dan Instagram, dengan menyuarakan opininya tentang agama, politik, dan isu kebangsaan.

Pandangannya sering memicu polemik karena dianggap provokatif. Berikut ini lima kontroversi terbesar Abu Janda terkait Islam dan politik kebangsaan:

Pernyataan "Islam Agama Arogan"

Abu Janda pernah menyebut bahwa Islam adalah agama yang arogan, yang memicu kemarahan banyak pihak, terutama umat Muslim.

Pernyataan ini disampaikan dalam konteks debat mengenai hubungan antaragama di Indonesia.

Kritik keras datang dari berbagai organisasi Islam, seperti MUI dan NU, yang menilai ucapannya melecehkan ajaran agama.

Perseteruan dengan Tokoh Agama dan Aktivis Muslim

Abu Janda kerap terlibat perseteruan dengan tokoh-tokoh Muslim, seperti Ustaz Tengku Zulkarnain dan Habib Rizieq.

Ia sering menggunakan bahasa keras dalam kritiknya terhadap mereka, menganggap bahwa mereka menyebarkan intoleransi dan radikalisme.

Baca Juga: Viral Tren TikTok 'Nikah Muda', Ternyata Ini Usia yang Tepat untuk Menikah Menurut Islam

Ini memunculkan persepsi bahwa Abu Janda mendiskreditkan kelompok Islam tertentu, sehingga menuai kecaman dari berbagai kalangan.

Isu Rasisme terhadap Natalius Pigai

Kontroversi lain muncul saat Abu Janda dianggap membuat pernyataan rasis terhadap Natalius Pigai, seorang aktivis Papua.

Dalam sebuah unggahan di Twitter, Abu Janda menulis bahwa Pigai sudah “selesai berevolusi.”

Meskipun ia berkilah bahwa komentarnya bukan bentuk rasisme, banyak pihak menilainya melecehkan dan diskriminatif. Kasus ini bahkan berujung pada pelaporan kepada polisi.

Keterlibatan dalam Isu Radikalisme dan Terorisme

Abu Janda sering mengkritik isu radikalisme dan terorisme dengan mengaitkannya dengan kelompok Islam tertentu.

Ia menyebut bahwa Islam di Indonesia sedang “berperang melawan radikalisme.”

Sikap ini menimbulkan respons negatif, karena dianggap menyudutkan sebagian umat Islam dan menciptakan stigma bahwa Islam identik dengan radikalisme.

Pembelaan Terhadap Pemerintah dalam Isu Kebangsaan

Abu Janda dikenal sebagai pendukung kebijakan pemerintah, terutama dalam isu-isu kebangsaan seperti toleransi dan Pancasila.

Namun, kritik muncul karena ia dianggap menggunakan cara yang tidak etis dalam membela pemerintah, termasuk dengan memojokkan lawan politik pemerintah.

Baca Juga: Taliban Larang Gambar Makhluk Hidup, Disebut Bertentangan dengan Islam

Hal ini memperkuat persepsi bahwa Abu Janda bukan hanya seorang aktivis, melainkan bagian dari alat propaganda politik tertentu.

Kontroversi yang melibatkan Abu Janda mencerminkan kompleksitas hubungan antara agama, politik, dan kebangsaan di Indonesia.

Ia menjadi simbol polarisasi di era media sosial, di mana perbedaan pendapat sering kali berujung pada konflik terbuka.

Terlepas dari berbagai kritik, Abu Janda tetap aktif menyuarakan opininya, menegaskan bahwa ia berada di garda depan dalam membela nilai-nilai yang ia yakini.

Artikel ini mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berpendapat, terutama dalam isu-isu sensitif seperti agama dan politik, agar tercipta dialog yang sehat dan konstruktif di tengah masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.