Akurat

Bolehkan Seorang Muslim Pilah-pilih dalam Pertemanan?

Fahri Hilmi | 8 Desember 2023, 08:18 WIB
Bolehkan Seorang Muslim Pilah-pilih dalam Pertemanan?

AKURAT.CO Sikap pilih-pilih teman menjadi suatu fenomena yang kerap ditemukan dalam menjalani hubungan sosial dengan orang lain. Meski begitu, apakah sikap ini selalu dipandang buruk? Apakah Islam sendiri mengatur bagaimana manusia menjalin hubungan pertemanan?

Sikap pilih-pilih teman sendiri dapat dipahami dalam dua sisi, yakni positif dan negatif. Dalam pandangan negatif, pilih-pilih dalam berteman terjadi ketika seseorang mendiskriminasi orang lain dengan sengaja tidak mau berteman karena memiliki taraf yang berbeda dengan dirinya.

Contohnya ketika orang yang kaya hanya mau berteman dengan orang yang sama atau lebih kaya dari dirinya, dan memusuhi orang lain dari golongan ekonomi sederhana atau tidak mampu.  

Sedangkan dalam pandangan positif, dalam perilaku pilih-pilih teman, dilihat dari kehati-hatian seseorang dalam memilih teman yang dapat membawanya menuju kebaikan serta menjauhi orang yang dapat mempengaruhinya berbuat buruk dan maksiat.

Baca Juga: Hukum Manipulasi Suara dalam Pemilu Perspektif Islam

Dilansir dari sejumlah sumber, pandangan memilih teman secara positif inilah yang turut menjadi anjuran dalam Islam, yakni umat muslim diminta menentukan pilihannya dalam berteman. Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Artinya: “Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shohihul Jaami’ 3545).

Berdasarkan hadits tersebut, Islam menerangkan bahwa suatu pertemanan akan mempengaruhi sikap yang satu dengan lainnya. Maka dari itu, pilih-pilih teman dalam Islam boleh dilakukan serta menjadi anjuran dengan tujuan menemukan orang yang dapat memberikan manfaat dan membawa kebaikan bagi diri seseorang.

Perumpamaan dari jenis teman yang baik dan buruk sendiri digambarkan sebagai penjual minyak wangi dan tukang besi, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Baca Juga: Keutamaan Memiliki Anak Perempuan dalam Islam, Lengkap dengan Haditsnya

Artinya: Dari Abu Musa, dari Nabi Muhammad, beliau bersabda: Perumpamaan teman yang baik dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, ada kalanya penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu mendapatkan aroma wanginya. Sedangkan pandai besi ada kalanya (percikan apinya) akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan aroma tidak sedap darinya. (HR.Al-Bukhari: 5108, Muslim: 2628), Ahmad:19163).

Untuk itu, penting bagi seorang muslim untuk dekat dengan orang-orang yang soleh, senantiasa mengingatkan dalam kebaikan, serta dapat memberikan manfaat melalui perilakunya yang pandai, rajin, pekerja keras, dan lain sebagainya. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Fahri Hilmi
Lufaefi
Editor
Lufaefi