Akurat

Ciri-Ciri Bipolar yang Sering Terabaikan: Apakah Kamu Mengalaminya?

Eko Krisyanto | 19 September 2025, 15:41 WIB
Ciri-Ciri Bipolar yang Sering Terabaikan: Apakah Kamu Mengalaminya?

AKURAT.CO Bipolar merupakan salah satu jenis gangguan mental yang cukup terkenal di masyarakat. Kondisi ini bukan sekadar stres atau depresi biasa, melainkan ditandai dengan perubahan suasana hati yang ekstrem. 

Penderitanya bisa mengalami peralihan mood secara drastis, misalnya dari perasaan penuh semangat dan energi, lalu tiba-tiba berubah menjadi putus asa, tidak berdaya, hingga muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.

Gangguan bipolar adalah kondisi kejiwaan yang berfokus pada perubahan suasana hati (mood disorder) yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu.

Berdasarkan data WHO tahun 2016, tercatat sekitar 60 juta orang di dunia hidup dengan bipolar, dan jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun. 

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan sosial, pekerjaan, hingga kualitas hidup penderita secara keseluruhan.

Baca Juga: Kenapa World Bipolar Day Harus Diperingati? Berikut Sejarah Dan Alasannya

Ciri-Ciri Bipolar Berdasarkan Mood

1. Episode Manik (Mania)

Tanda-tandanya meliputi:

  • Perasaan euforia atau semangat yang sulit dikendalikan.

  • Bicara cepat dan ide-ide yang muncul berlimpah (flight of ideas).

  • Peningkatan libido atau perilaku seksual yang impulsif.

  • Sulit berkonsentrasi karena terlalu banyak gagasan.

  • Keyakinan diri yang berlebihan (grandiositas).

  • Kebutuhan tidur berkurang atau bisa sama sekali tidak tidur.

  • Fokus intens pada satu aktivitas tertentu (sering disertai perilaku impulsif).

  • Pada kondisi ekstrem, perilaku menjadi agresif, berisiko, penyalahgunaan zat, atau boros berlebihan.

2. Episode Depresif

Tanda-tandanya meliputi:

  • Rasa sedih yang mendalam dan kelelahan kronis.

  • Kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya menyenangkan.

  • Sulit berkonsentrasi dan mudah ragu.

  • Menurunnya rasa percaya diri.

  • Muncul pikiran untuk mengakhiri hidup (ide bunuh diri) pada kasus parah.

  • Gangguan pola tidur: insomnia atau hipersomnia (tidur berlebihan).

  • Rentan terhadap penyalahgunaan zat dan tindakan menyakiti diri sendiri.

  • Pada episode berat, dapat muncul delusi atau halusinasi.

Baca Juga: Sebut Medina Zein Derita Bipolar Akut, Razman Arif Nasution Disentil Komunitas Bipolar

Tipe-Tipe Bipolar

  1. Bipolar I
    Penderita mengalami episode manik (luapan energi yang berlebihan) yang jelas dan cukup parah, biasanya sampai memengaruhi aktivitas sehari-hari atau bahkan memerlukan perawatan medis. Episode manik ini bisa disertai dengan periode depresi yang berlangsung dalam hitungan minggu.

  2. Bipolar II
    Pada tipe ini, penderita lebih sering mengalami episode depresi yang berat, diselingi dengan episode hipomania (mania ringan) yang biasanya hanya berlangsung beberapa hari. Meski tidak separah bipolar I, tipe ini tetap mengganggu produktivitas dan kualitas hidup.

  3. Siklotimia (Cyclothymia)
    Ditandai dengan pola suasana hati yang naik-turun secara kronis, namun gejalanya lebih ringan dibandingkan bipolar I atau II. Kondisi ini biasanya bertahan minimal dua tahun, dan meski tidak seintens tipe lain, tetap berpotensi mengganggu hubungan sosial maupun pekerjaan jika tidak ditangani.

Faktor yang Diduga Menyebabkan Bipolar

Penyebab pasti bipolar belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa faktor yang diduga berperan antara lain:

  1. Ketidakseimbangan neurotransmitter
    Perubahan fisiologis di otak dapat memengaruhi kadar zat kimia seperti serotonin, dopamin, dan noradrenalin yang berperan dalam regulasi suasana hati. Misalnya, episode mania sering dikaitkan dengan aktivitas noradrenalin yang tinggi.

  2. Faktor genetik (keturunan)
    Risiko bipolar meningkat jika ada anggota keluarga dekat (orang tua/saudara kandung) dengan riwayat bipolar atau gangguan mood serupa.

  3. Pengaruh lingkungan dan psikososial
    Peristiwa hidup yang penuh stres atau trauma seperti kematian orang terdekat, perceraian, konflik interpersonal, atau masalah keuangan dapat memicu timbulnya episode pada individu yang rentan secara biologis.

Cara Penanganan Bipolar

Penanganan bipolar biasanya bersifat kombinasi (multimodal) dan harus ditentukan oleh tenaga medis profesional. Pendekatan umum yang dilakukan, meliputi:

  1. Obat-obatan
    Dokter kejiwaan dapat meresepkan obat untuk menstabilkan mood (mood stabilizers), antipsikotik, antidepresan (dengan hati-hati), atau obat untuk mengatasi kecemasan dan gangguan tidur. Tujuannya mengurangi gejala, mencegah kambuh, dan membantu stabilisasi fungsi harian.

  2. Psikoterapi
    Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terapi interpersonal, dan psikoedukasi membantu penderita mengenali pola pikir dan perilaku yang bermasalah, belajar strategi koping, serta meningkatkan kepatuhan pengobatan.

  3. Penanganan untuk penyalahgunaan zat
    Jika ada kecanduan alkohol atau obat terlarang, diperlukan program rehabilitasi dan terapi khusus karena penyalahgunaan zat dapat memperberat atau memicu episode bipolar.

  4. Perawatan intensif atau rawat inap
    Pada kasus berat, misalnya yaitu adanya risiko bunuh diri, melukai diri sendiri, atau gangguan realitas (delusi/halusinasi) rawat inap dapat diperlukan untuk observasi dan stabilisasi segera.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R