Pria Bersenjata AR-15 Ditangkap Dekat Gedung Putih, Mengaku Dengar Suara Perintah Bunuh Donald Trump

AKURAT.CO Seorang pria asal Venezuela ditangkap aparat Dinas Rahasia Amerika Serikat (US Secret Service) setelah kedapatan membawa tiga senjata api dan puluhan butir amunisi di dekat Gedung Putih. Pria tersebut dilaporkan mengaku mendengar suara yang memerintahkannya pergi ke Washington DC untuk membunuh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Penangkapan terjadi pada Kamis malam waktu setempat, ketika seorang petugas Secret Service yang sedang berpatroli melihat sebuah mobil pikap Ford F-150 berwarna biru terparkir di Constitution Avenue, tidak jauh dari kompleks Gedung Putih.
Petugas kemudian mendekati kendaraan tersebut karena mencurigai aktivitas pengemudinya. Saat ditanya apakah membawa senjata, pria itu mengangguk dan membuat isyarat tangan menyerupai pistol.
Menurut dokumen pengaduan pidana yang diajukan ke Pengadilan Tinggi DC, pria bernama Ronny Yordrix Guanipa Chrinos itu kemudian keluar dari kendaraan dan berkomunikasi dengan petugas menggunakan Google Translate.
Ia mengaku membawa senjata karena seseorang pernah mencoba membunuhnya menggunakan senjata tersebut. Ia juga menunjukkan sebuah tas berwarna cokelat di dalam mobil yang kemudian diperiksa oleh petugas.
Tiga Senjata Api Ditemukan di Mobil Curian
Hasil penggeledahan menemukan tiga senjata api, yakni pistol mesin MAC-10, pistol Glock 43x, dan senapan serbu AR-15. Petugas juga menyita puluhan butir amunisi dari dalam kendaraan.
Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap bahwa Ford F-150 tersebut merupakan kendaraan curian yang sebelumnya dilaporkan hilang di South Carolina.
Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyebut Guanipa Chrinos mengaku mendengar suara-suara di kepalanya yang memerintahkannya pergi ke Washington DC dan membunuh Presiden Donald Trump.
Namun, keterangan mengenai suara yang diduga memerintahkan pembunuhan tersebut tidak tercantum dalam dokumen pernyataan tertulis perkara pidana yang diajukan ke pengadilan.
Direktur US Secret Service Sean Curran mengatakan insiden tersebut mencerminkan tingginya tingkat ancaman keamanan di sekitar Gedung Putih.
"Insiden ini mencerminkan lingkungan ancaman yang meningkat, serta terus bertambahnya jumlah individu bersenjata yang tertarik mendekati kompleks Gedung Putih," kata Curran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 4Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 5Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 6Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 7Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 8Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar






