Atap Sekolah Ambruk di Pakistan, 35 Orang Tewas, Keluarga Korban Tuntut Keadilan
AKURAT.CO Tragedi atap sekolah ambruk di Peshawar, Pakistan, menewaskan 35 orang yang terdiri dari seorang guru perempuan dan 34 siswa. Sebagian besar korban merupakan anak-anak berusia di bawah 14 tahun. Keluarga korban kini menuntut keadilan dan meminta pemerintah mengusut penyebab runtuhnya bangunan sekolah tersebut.
Insiden bangunan sekolah ambruk itu terjadi pada Kamis pagi. Puluhan siswa tertimpa reruntuhan ketika atap bangunan roboh. Dugaan awal dari pejabat setempat menyebut kondisi infrastruktur yang lemah sebagai salah satu penyebab kecelakaan mematikan tersebut.
Sehari setelah tragedi, Jumat, keluarga korban dan warga berkumpul di sekitar sekolah untuk berduka atas kehilangan anak-anak mereka. Pemilik sekolah dilaporkan telah ditahan, sementara penyelidikan mengenai penyebab pasti bangunan runtuh masih berlangsung.
Muhammad Wahab, seorang penjahit yang kehilangan keponakannya yang berusia 11 tahun, Hammad, meminta pemerintah memastikan keluarga korban memperoleh keadilan.
“Orang tua dari semua anak ini harus mendapatkan keadilan,” kata Wahab kepada kantor berita AFP, Jumat.
Ia juga menyampaikan permohonan kepada para pemimpin Pakistan agar memperhatikan nasib keluarga korban. Menurutnya, Hammad merupakan siswa yang berprestasi sebelum meninggal dalam tragedi tersebut.
Keluarga Kehilangan Anak dan Kerabat dalam Tragedi Sekolah
Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga para korban atap sekolah ambruk di Peshawar. Sejumlah orang tua mendatangi lokasi kejadian untuk mengenang anak-anak mereka yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
Seorang ayah memperlihatkan foto putrinya kepada AFP melalui telepon seluler. Dalam foto tersebut, sang anak terlihat mengenakan pakaian berwarna merah dan emas sebelum kehilangan nyawanya dalam insiden tersebut.
Orang tua lainnya, Asadullah, mengatakan dirinya kehilangan seorang anak, seorang keponakan, serta tiga kerabat dekat lainnya dalam tragedi itu.
Ia mengenang para korban sebagai anak-anak yang rajin belajar dan kerap meraih peringkat atas di kelas. Menurutnya, mereka selalu berangkat ke sekolah dengan penuh semangat.
Kesaksian keluarga tersebut menggambarkan besarnya dampak tragedi yang tidak hanya merenggut nyawa puluhan orang, tetapi juga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 10Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto


