Bentrokan Antarkelompok di Sudan Selatan Tewaskan 71 Orang, Pasukan Keamanan Dikerahkan

AKURAT.CO Bentrokan antarkelompok di Rumbek, Sudan Selatan, menewaskan sedikitnya 71 orang pada Jumat (9/10) dini hari. Pemerintah sementara Sudan Selatan menyebut kekerasan yang melibatkan warga sipil bersenjata itu terjadi sekitar pukul 04.00 waktu setempat dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk empat anggota militer.
Kekerasan di Rumbek, kota di wilayah tengah Sudan Selatan, diduga dipicu konflik antaretnis dan antarkomunitas. Sejumlah saksi mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa sekelompok pemuda dari luar kota berusaha mengambil alih Rumbek dan sempat menguasai wilayah tersebut untuk sementara waktu.
Situasi berubah setelah bala bantuan polisi dan militer tiba. Para penyerang kemudian mundur, sementara sejumlah saksi menyebut bentrokan berlanjut di luar batas kota. Pemerintah menyatakan telah mengerahkan tambahan pasukan keamanan untuk mengendalikan situasi dan melindungi warga sipil.
Pemerintah Sudan Selatan Tangkap Empat Warga Bersenjata
Kementerian Informasi pemerintah sementara Sudan Selatan menyatakan sedikitnya 71 orang dilaporkan tewas berdasarkan laporan keamanan awal. Dari jumlah tersebut, empat orang merupakan anggota militer.
Pemerintah juga mengumumkan penangkapan empat warga sipil bersenjata terkait kekerasan tersebut. Pihak berwenang menyatakan kondisi di Rumbek telah berada di bawah kendali pasukan keamanan.
Pemerintahan sementara mengecam keras bentrokan itu dan meminta seluruh komunitas menahan diri, menghindari tindakan kekerasan, serta tetap tenang. Pasukan keamanan juga dikerahkan untuk memastikan keselamatan penduduk.
Sudan Selatan saat ini dipimpin pemerintahan sementara setelah kepala negara Salva Kiir membubarkan pemerintah menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung pada Desember.
Konflik Antaretnis Berulang di Sudan Selatan
Sudan Selatan, negara termuda di dunia yang meraih kemerdekaan dari Sudan pada 2011, masih menghadapi konflik antarkomunitas dan persoalan korupsi yang mengakar.
Kekerasan di Rumbek menambah panjang daftar bentrokan mematikan di negara tersebut. Pada awal Maret, sedikitnya 169 orang tewas dalam kekerasan antarkomunitas di wilayah utara. Menurut informasi yang disampaikan kepada AFP saat itu, sekelompok pemuda dari etnis Nuer berupaya membalas pembunuhan sejumlah anggota kelompok mereka di sebuah pasar.
Sementara itu, pada pertengahan September, bentrokan antaretnis di Abyei menewaskan sedikitnya 26 orang dan melukai 82 lainnya. Abyei merupakan wilayah yang diklaim oleh Sudan maupun Sudan Selatan.
Rentetan kekerasan tersebut menunjukkan bahwa konflik antarkelompok masih menjadi tantangan serius bagi stabilitas Sudan Selatan, di tengah persiapan negara itu menghadapi pemilihan umum pada Desember.
Sumber: Alarabiya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 5Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 6Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 7Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara




