Akurat Logo

Riset Citi Institute: Peta Perdagangan Global Kini Bergeser ke Afrika dan Amerika Latin

Idham Nur Indrajaya | 18 September 2026, 06:43 WIB
Riset Citi Institute: Peta Perdagangan Global Kini Bergeser ke Afrika dan Amerika Latin
Riset Citi mengungkap perubahan peta perdagangan global ke Afrika dan Amerika Latin serta dampaknya bagi Indonesia. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Selama bertahun-tahun, Amerika Utara menjadi salah satu tujuan penting bagi produk industri China. Namun, perubahan arus perdagangan global menunjukkan bahwa perusahaan mulai menjajaki pasar lain, termasuk Afrika dan Amerika Latin.

Perubahan tersebut terlihat dari pergeseran tujuan ekspor kendaraan dan suku cadang China. Di tengah ketegangan geopolitik dan perubahan hubungan dagang, perusahaan tidak hanya berupaya mempertahankan pasar lama, tetapi juga mencari jalur perdagangan alternatif.

Laporan Citi Institute dan Citi Services berjudul Transformasi Lanskap Global: Pergeseran dalam Perdagangan Global dan Foreign Direct Investment (FDI) mengungkap perubahan tersebut. Temuannya menunjukkan bahwa perdagangan global tetap tumbuh, meskipun sejumlah koridor perdagangan mengalami pergeseran.

Peta perdagangan global mulai bergeser karena perusahaan menyesuaikan jalur perdagangan dan memperluas pasar di tengah ketidakpastian geopolitik. Data Citi menunjukkan pangsa Amerika Utara dalam ekspor kendaraan dan suku cadang China turun dari sekitar sepertiga menjadi sekitar 13% pada pertengahan 2026. Sebaliknya, pangsa Afrika meningkat dari sekitar 8% pada 2022 menjadi lebih dari 15%. Amerika Latin juga menjadi salah satu kawasan dengan peningkatan terbesar dalam kategori ekspor tersebut.

Mengapa Peta Perdagangan Global Mulai Bergeser?

Perubahan peta perdagangan global tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya ketidakpastian dalam hubungan ekonomi antarnegara. Konflik geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, dan gangguan rantai pasok membuat perusahaan perlu meninjau kembali cara mereka menjangkau konsumen dan memperoleh bahan baku.

Dalam kondisi tersebut, bergantung pada satu pasar ekspor dapat menghadirkan risiko tersendiri. Ketika suatu negara menerapkan tarif baru atau memperketat aturan impor, perusahaan yang terlalu bergantung pada pasar tersebut berpotensi menghadapi tekanan terhadap penjualan dan biaya operasional.

Salah satu respons yang dapat dilakukan perusahaan adalah melakukan diversifikasi pasar. Strategi ini berarti memperluas tujuan penjualan agar bisnis tidak hanya mengandalkan satu kawasan.

Namun, perubahan tujuan ekspor tidak selalu berarti perusahaan memindahkan pabriknya ke negara lain. Perusahaan dapat mempertahankan fasilitas produksi yang sudah ada sambil mengalihkan sebagian pengiriman ke pasar baru.

Perbedaan tersebut penting dipahami karena perubahan jalur perdagangan dan relokasi industri merupakan dua hal yang tidak selalu berjalan bersamaan.

Data Citi memberikan gambaran mengenai perubahan komposisi tujuan ekspor. Data tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa seluruh perusahaan China sedang memindahkan kapasitas produksinya ke Afrika atau Amerika Latin.

Baca Juga: Perdagangan RI-Malaysia Tumbuh 21 Persen, Kemendag Genjot Transaksi di Perbatasan Entikong-Tedebu

Baca Juga: Prabowo Harap Nilai Perdagangan Indonesia-Rusia Digandakan Lewat I-EAEU FTA 2027

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.