Akurat Logo

Pentagon Bantah Stok Interceptor AS Menipis, Laporan IG Ungkap Kekurangan Munitions Strategis

Fitra Iskandar | 16 September 2026, 16:04 WIB
Pentagon Bantah Stok Interceptor AS Menipis, Laporan IG Ungkap Kekurangan Munitions Strategis

AKURAT.CO Pentagon membantah laporan yang menyebut stok interceptor Amerika Serikat (AS) menipis akibat penggunaan besar-besaran dalam perang melawan Iran. Pernyataan Pentagon itu muncul setelah laporan inspektur jenderal Departemen Pertahanan AS mengungkap adanya kekurangan amunisi strategis dan hambatan dalam industri pertahanan untuk mengisi kembali persediaan.

Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan klaim bahwa stok interceptor AS telah habis sepenuhnya tidak benar. Menurut Parnell, militer AS masih memiliki kemampuan untuk merespons berbagai ancaman meskipun penggunaan amunisi selama perang telah meningkatkan tekanan terhadap persediaan.

“Laporan yang menyatakan bahwa persediaan amunisi Amerika Serikat telah habis sepenuhnya adalah salah,” kata Parnell. Presiden Donald Trump juga menyatakan AS masih memiliki jumlah interceptor yang besar dan terus meningkatkan kapasitas produksinya.

Namun, laporan inspektur jenderal Pentagon yang mencakup periode April-Juni 2026 menyebut perang dengan Iran telah menimbulkan “strategic inventory shortfalls” atau kekurangan persediaan strategis. Laporan tersebut juga mengidentifikasi sejumlah hambatan dalam basis industri pertahanan AS, termasuk keterbatasan produksi komponen dan kemampuan untuk segera mengganti amunisi yang telah digunakan.

Produksi Patriot digenjot

Salah satu sistem yang mendapat perhatian adalah Patriot, khususnya interceptor PAC-3 MSE yang diproduksi Lockheed Martin. Perusahaan tersebut menyatakan telah memproduksi 620 PAC-3 MSE pada 2025, sebuah rekor produksi tahunan.

Pada Januari 2026, Lockheed Martin dan Departemen Pertahanan AS menyepakati kerangka kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi PAC-3 MSE dari sekitar 600 menjadi 2.000 interceptor per tahun. Target kapasitas tersebut direncanakan tercapai pada akhir 2030.

Produksi sistem pertahanan rudal lain juga tengah diperluas. Lockheed Martin menyatakan kapasitas produksi interceptor THAAD akan ditingkatkan dari sekitar 96 menjadi 400 unit per tahun melalui kesepakatan dengan pemerintah AS.

Meski demikian, peningkatan kapasitas produksi membutuhkan waktu. Tekanan terhadap persediaan muncul karena penggunaan interceptor dalam jumlah besar selama konflik berlangsung, sementara kemampuan industri untuk menggantinya tidak dapat meningkat secara instan.

Ribuan interceptor digunakan dalam perang Iran

Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip sejumlah media, hingga pertengahan Juli militer AS telah menggunakan sekitar 1.700 interceptor Patriot dan lebih dari 200 interceptor THAAD dalam perang dengan Iran. Kapal perang Angkatan Laut AS juga disebut telah menembakkan sekitar 150 Standard Missile interceptor untuk menghadapi rudal dan drone Iran.

Penggunaan interceptor bahkan tetap tinggi dalam serangan-serangan terbaru. Dalam satu serangan Iran terhadap Yordania, militer AS dilaporkan menembakkan sekitar 60–70 interceptor Patriot dan lebih dari 12 interceptor THAAD untuk menghadapi sekitar 20 rudal balistik.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.