Jared Kushner Temui Hamas Bahas Rencana Damai Gaza, Israel Justru Menolak

AKURAT.CO Utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Timur Tengah, Jared Kushner, bertemu dengan perwakilan Hamas di Mesir pada Minggu untuk membahas rencana perdamaian Gaza yang didukung Washington. Pertemuan tersebut berlangsung ketika upaya mempertahankan kesepakatan gencatan senjata Gaza menghadapi ancaman baru setelah Israel menolak rencana 15 poin yang diajukan Board of Peace.
Kushner, yang juga merupakan menantu Trump, bertemu delegasi Hamas yang disebut mencakup pemimpin baru kelompok tersebut, Khalil al-Hawayy.
Pertemuan berlangsung di Mesir dan disebut menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara pejabat AS dan Hamas sejak kesepakatan gencatan senjata Gaza tercapai tahun lalu.
Pertemuan itu juga dihadiri Utusan Board of Peace Nickolay Mladenov dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Perwakilan Mesir, Qatar, dan Turki turut mengikuti pembicaraan tersebut.
Kushner Temui Presiden Mesir
Selain bertemu delegasi Hamas, Kushner juga melakukan pertemuan dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.
Rangkaian diplomasi tersebut dilakukan ketika pemerintahan Trump berupaya menyelamatkan rencana perdamaian Gaza yang mendapat penolakan dari Israel.
Kushner, Mladenov, dan Blair dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin.
Pertemuan tersebut diperkirakan menjadi bagian penting dari upaya Washington menjembatani perbedaan antara Israel dan Hamas mengenai implementasi rencana perdamaian Gaza.
Rencana Damai Gaza Minta Hamas Dilucuti
Board of Peace sebelumnya mengatakan telah mencapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas dan kelompok-kelompok bersenjata lainnya di Gaza secara menyeluruh.
Rencana tersebut terdiri dari 15 poin dan mencakup sejumlah agenda besar untuk mengakhiri konflik serta membangun kembali Gaza.
Salah satu bagian penting rencana tersebut adalah penarikan pasukan Israel dari wilayah Gaza dan pembangunan kembali kawasan tersebut di bawah pemerintahan sipil Palestina yang baru.
Namun, Israel menolak rencana tersebut.
Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya sebelum Hamas benar-benar dilucuti.
“Israel menolak dokumen 15 poin Board of Peace mengenai Gaza,” kata Netanyahu. “IDF tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai Hamas benar-benar dilucuti.”
Sikap tersebut menjadi salah satu hambatan terbesar dalam penerapan rencana perdamaian yang didukung Trump.
Delapan Negara Muslim Kritik Penolakan Israel
Penolakan Israel terhadap rencana tersebut juga mendapat kritik dari delapan negara Muslim.
Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Turki, Pakistan, dan Indonesia mengeluarkan pernyataan bersama yang menyayangkan keputusan Israel.
Mereka menilai penolakan tersebut berpotensi mengancam upaya Trump untuk mewujudkan perdamaian di Gaza.
Pernyataan bersama itu muncul ketika Washington berusaha mempertahankan momentum diplomasi dan mencegah konflik Gaza kembali memasuki fase eskalasi.
Diplomasi AS-Hamas Masuki Babak Baru
Pertemuan Kushner dengan Hamas menjadi perkembangan penting dalam diplomasi Gaza karena berlangsung langsung dengan perwakilan kelompok yang selama ini menjadi salah satu pihak utama dalam konflik.
Keterlibatan Mesir, Qatar, dan Turki juga menunjukkan bahwa upaya diplomatik untuk mempertahankan proses perdamaian melibatkan sejumlah negara yang memiliki hubungan dan saluran komunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai.
Kini, tantangan terbesar bagi pemerintahan Trump adalah menemukan formula yang dapat menjembatani tuntutan Israel agar Hamas dilucuti dengan agenda penghentian konflik, penarikan pasukan Israel, serta pembangunan kembali Gaza.
Pertemuan Kushner dengan Hamas dan agenda pertemuan berikutnya dengan Netanyahu menjadi penentu penting apakah rencana damai Gaza 15 poin masih dapat diselamatkan atau justru kembali menghadapi kebuntuan.
Sumber: UPI
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2, Cek Jadwal Garuda di Final FIFA ASEAN Cup 2026!
- 8Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah







