Israel Gempur Lebanon Selatan, 9 Orang Tewas Termasuk 3 Anak dalam Serangan di Nabatieh

AKURAT.CO Ketegangan di Lebanon selatan kembali meningkat setelah serangkaian serangan udara Israel menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk tiga anak-anak, dan melukai 11 lainnya pada Sabtu pagi.
Serangan tersebut menghantam sejumlah wilayah di Distrik Nabatieh, termasuk Ansar dan Deir al-Zahrani, serta daerah sekitar Lebanon selatan.
Kementerian Kesehatan Lebanon dan kantor berita resmi National News Agency (NNA) melaporkan, tujuh orang tewas setelah pesawat tempur Israel menyerang sebuah rumah di pinggiran Ansar, menuju kota Zrariyeh.
Bangunan tersebut hancur akibat serangan udara. Para korban tewas terdiri atas dua perempuan dan tiga anak-anak.
Dua orang lainnya dilaporkan terluka dalam serangan tersebut.
Serangan Israel Tembus Jauh ke Wilayah Lebanon
NNA menyebut serangan terhadap Ansar menjadi serangan udara Israel pertama yang mencapai wilayah sedalam itu di Lebanon sejak gencatan senjata berlaku dua bulan lalu.
Serangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keberlangsungan stabilitas di Lebanon selatan, terutama setelah sebelumnya terdapat kesepakatan yang bertujuan mengurangi ketegangan antara Israel dan Lebanon.
Militer Israel kemudian mengklaim serangan tersebut menyasar infrastruktur Hezbollah di wilayah Nabatieh dan Ansar.
Israel mengatakan serangan dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Hezbollah terhadap pasukan Israel yang sedang beroperasi di kawasan perbukitan Ali al-Taher.
Namun, pemerintah Lebanon membantah narasi bahwa seluruh korban dalam serangan tersebut merupakan bagian dari infrastruktur militer.
Serangan Juga Hantam Deir al-Zahrani
Selain Ansar, serangan udara Israel juga menghantam kota Deir al-Zahrani di Distrik Nabatieh.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya dua orang tewas dan sembilan lainnya terluka dalam serangan tersebut berdasarkan data awal.
Pesawat tempur Israel juga dilaporkan melakukan serangkaian serangan udara terhadap kawasan perbukitan Ali al-Taher di sekitar Nabatieh al-Fawqa.
Rangkaian serangan tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai eskalasi konflik di Lebanon selatan.
PM Lebanon Sebut Eskalasi Israel Sangat Berbahaya
Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam keras serangan Israel.
Salam menyebut eskalasi Israel di Nabatieh, Ansar, Deir al-Zahrani, dan desa-desa di sekitarnya sebagai tindakan yang “sangat berbahaya”.
Menurutnya, serangan tersebut justru mengancam upaya untuk memperkuat stabilitas dan keamanan di Lebanon selatan.
Salam juga menegaskan bahwa korban tewas dalam serangan di Ansar tidak dapat dikategorikan sebagai infrastruktur militer.
“Ketujuh korban serangan Israel di Ansar bukanlah ‘infrastruktur militer’, dan anak-anak serta perempuan yang terbunuh bukanlah target militer,” kata Salam melalui platform media sosial X.
Ia menegaskan, jika memang terdapat infrastruktur militer di wilayah Lebanon, penanganannya merupakan tanggung jawab negara Lebanon melalui tentara dan lembaga resmi.
“Keberadaannya tidak memberikan Israel hak untuk melanggar wilayah Lebanon atau membahayakan warga sipil,” ujarnya.
Salam kemudian menyerukan Israel menghentikan eskalasi.
“Keamanan rakyat kami dan hak mereka untuk hidup di tanah mereka bukanlah sesuatu yang dapat dinegosiasikan atau dikompromikan,” katanya.
Kesepakatan Juni Belum Hentikan Serangan
Eskalasi terbaru terjadi meski Beirut dan Tel Aviv telah menandatangani perjanjian kerangka kerja pada 26 Juni dengan dukungan Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut mengatur penarikan Israel secara bertahap dari seluruh wilayah Lebanon yang didudukinya. Sebagai bagian dari pengaturan itu, tentara Lebanon akan dikerahkan di wilayah tersebut dan kelompok bersenjata, termasuk Hezbollah, akan dilucuti.
Namun, Israel masih mempertahankan keberadaannya di sejumlah wilayah Lebanon selatan.
Sebagian wilayah telah diduduki selama puluhan tahun, sementara wilayah lainnya dikuasai sejak perang sebelumnya pada 2023–2024.
Dalam serangan terbaru, Israel juga dilaporkan telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon.
Konflik Israel-Lebanon Kembali Jadi Sorotan
Serangan terbaru di Nabatieh menunjukkan bahwa kesepakatan politik dan keamanan belum sepenuhnya mampu menghentikan kekerasan di Lebanon selatan.
Dengan jatuhnya korban sipil, termasuk anak-anak, eskalasi tersebut juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Lebanon dan memperumit upaya internasional mempertahankan stabilitas kawasan.
Bagi warga Lebanon selatan, situasi ini kembali menimbulkan kekhawatiran bahwa wilayah mereka akan menjadi arena konfrontasi antara Israel dan Hezbollah, meskipun berbagai upaya diplomatik telah dilakukan untuk meredakan konflik.
Sumber: Anadolu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 7Hasil Indonesia vs Bangladesh 9-2, Cek Jadwal Garuda di Final FIFA ASEAN Cup 2026!
- 8Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah







