Mantan PM Magdalena Andersson Dorong Pengiriman Militer Swedia ke Greenland, Cegah Pencaplokan oleh AS

AKURAT.CO Mantan Perdana Menteri Swedia sekaligus pemimpin oposisi, Magdalena Andersson, menyatakan terbuka terhadap kemungkinan pengiriman tentara Swedia ke Greenland. Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya bersama negara-negara Eropa untuk mendukung Denmark, yang mengelola wilayah otonom tersebut.
Dalam wawancara dengan harian Dagens ETC, Andersson mengatakan dirinya tidak menutup kemungkinan peningkatan kehadiran militer di Greenland, termasuk keterlibatan pasukan Swedia. Pernyataan itu disampaikan saat Konferensi Nasional People and Armed Forces di Sälen.
“Swedia dan negara-negara Eropa harus berdiri tegas mendukung Greenland dan Denmark. Kami juga sedang mempertimbangkan apa yang bisa dilakukan, terutama setelah Denmark meminta dukungan,” ujar Andersson.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang berulang kali menyatakan keinginannya agar Greenland menjadi bagian dari AS. Sayap muda Partai Sosial Demokrat Swedia bahkan mengusulkan penempatan pasukan Uni Eropa di wilayah tersebut sebagai langkah pencegahan.
Saat ditanya secara langsung soal kemungkinan pengiriman tentara Swedia, Andersson menjawab, “Tentu, bersama dengan pihak lain.” Namun ia menegaskan, langkah tersebut hanya dapat dilakukan jika ada permintaan resmi dari Denmark dan pemerintah Greenland.
Sementara itu, Perdana Menteri Swedia saat ini, Ulf Kristersson, memperingatkan bahwa negara-negara kecil semakin rentan di tengah melemahnya tatanan dunia berbasis aturan. Ia menyebut pernyataan Washington terkait Greenland sebagai isu yang serius dan berpotensi mengganggu stabilitas global.
Di sisi lain, para pemimpin partai politik di Greenland kembali menegaskan penolakan mereka untuk bergabung dengan Amerika Serikat. “Kami tidak ingin menjadi orang Amerika atau Denmark. Kami ingin menjadi orang Greenland,” tegas mereka.
Komentar Trump, yang juga tidak menutup opsi militer untuk menguasai Greenland, menuai kecaman luas dari negara-negara Eropa. Sejumlah pihak menilai langkah tersebut dapat memicu krisis serius dan mengancam keberlangsungan NATO.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







