Jepang Kecam Larangan Ekspor China untuk Barang Dual-Use

AKURAT.CO Pemerintah Jepang melayangkan kecaman keras terhadap keputusan China yang melarang ekspor barang dual-use ke Negeri Sakura. Pada Rabu (7/1), Tokyo menilai kebijakan tersebut sebagai langkah yang sama sekali tidak dapat diterima dan sangat disesalkan, menandai semakin panasnya perseteruan diplomatik antara dua kekuatan ekonomi terbesar di Asia.
Barang yang masuk kategori dual-use mencakup berbagai produk, perangkat lunak, dan teknologi yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer. Salah satu yang paling krusial adalah unsur tanah jarang (rare earth), bahan strategis yang menjadi tulang punggung industri modern, mulai dari chip semikonduktor hingga drone dan teknologi pertahanan.
Ketegangan ini berakar dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada akhir tahun lalu. Saat itu, ia menyebut kemungkinan serangan China ke Taiwan—wilayah yang memiliki pemerintahan demokratis—sebagai ancaman eksistensial bagi Jepang. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Beijing.
China kembali menegaskan posisinya bahwa Taiwan merupakan bagian dari wilayah kedaulatannya, klaim yang selama ini ditolak oleh Taiwan. Perbedaan pandangan inilah yang kemudian merembet ke ranah ekonomi dan perdagangan.
Dampak konflik diplomatik ini pun cepat terasa di pasar keuangan. Indeks saham Nikkei Jepang tercatat melemah sekitar 1 persen, bertolak belakang dengan tren positif pasar global di Amerika Serikat dan Eropa yang justru mencetak rekor baru. Tekanan paling besar dialami saham perusahaan pertahanan, seperti Kawasaki Heavy Industries dan Mitsubishi Heavy Industries, yang masing-masing anjlok sekitar 3 persen.
Situasi semakin rumit setelah media milik pemerintah China, China Daily, melaporkan bahwa Beijing sedang mempertimbangkan pengetatan izin ekspor rare earth ke Jepang. Jika langkah ini benar-benar diterapkan, dampaknya diperkirakan akan sangat luas, terutama bagi industri otomotif dan manufaktur teknologi tinggi yang menjadi tulang punggung ekonomi Jepang.
Padahal, meski Jepang telah berusaha mendiversifikasi sumber pasokan sejak China membatasi ekspor rare earth pada 2010, kenyataannya sekitar 60 persen impor tanah jarang Jepang masih bergantung pada China.
Menurut ekonom Nomura Research Institute, Takahide Kiuchi, pembatasan ekspor rare earth selama tiga bulan saja berpotensi menimbulkan kerugian hingga 660 miliar yen atau sekitar Rp70 triliun, sekaligus memangkas 0,11 persen produk domestik bruto (PDB) Jepang. Jika larangan tersebut berlangsung selama satu tahun penuh, dampaknya bisa menggerus 0,43 persen PDB nasional.
Meski demikian, hingga kini data bea cukai China belum menunjukkan tanda-tanda penurunan ekspor rare earth ke Jepang. Pada November—periode data terbaru yang tersedia—volume ekspor justru melonjak 35 persen menjadi 305 ton, tertinggi sepanjang tahun 2025.
Hubungan kedua negara sendiri terus memburuk sejak pernyataan Takaichi soal Taiwan pada awal November. Sejak saat itu, China mengimbau warganya untuk tidak bepergian ke Jepang, menghentikan impor makanan laut asal Jepang, serta membatalkan berbagai pertemuan resmi dan agenda pertukaran budaya antara kedua negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









