Akurat

Iran Memperingatkan AS yang Ingin Ikut Campur dalam Demonstrasi di Negaranya

Kumoro Damarjati | 3 Januari 2026, 13:19 WIB
Iran Memperingatkan AS yang Ingin Ikut Campur dalam Demonstrasi di Negaranya

AKURAT.CO Pemerintah Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat pada Jumat (waktu setempat), menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk melakukan intervensi di tengah gelombang protes mematikan yang melanda sejumlah wilayah Iran. Para pejabat Teheran memperingatkan bahwa pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah bisa menjadi sasaran jika Washington mencampuri urusan dalam negeri Iran.

Melalui akun Truth Social, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat siap bertindak jika Iran menembaki dan membunuh demonstran damai. Ia menegaskan AS dalam kondisi “siap tempur” dan tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari pejabat tinggi Iran. Kepala Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa campur tangan Amerika akan memicu kekacauan di seluruh kawasan dan menghancurkan kepentingan AS. Sementara itu, Ali Shamkhani, penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menyebut keamanan nasional Iran sebagai “garis merah” yang tidak boleh dilanggar.

Ancaman paling tegas disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia memperingatkan bahwa seluruh pangkalan dan pasukan Amerika di kawasan akan menjadi target sah jika AS melakukan tindakan apa pun terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran berada dalam kondisi siaga penuh dan siap merespons setiap ancaman terhadap kedaulatan negara.

Dalam pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Iran menilai ancaman Amerika Serikat sebagai pelanggaran hukum internasional dan menegaskan bahwa setiap agresi akan dibalas dengan respons “tegas dan menyeluruh”.

Pengamat menilai ancaman Trump menempatkan Washington dalam dilema strategis. Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, mengatakan kegagalan AS menindaklanjuti ancaman dapat memperkuat posisi pemerintah Iran, sementara intervensi nyata berisiko memicu konflik regional yang lebih luas dengan dampak tak terduga.

Di dalam negeri, aksi protes terus berlanjut. Di Teheran, puluhan demonstran turun ke jalan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah seperti “Kebebasan” dan “Turunkan diktator”. Di sejumlah wilayah, aparat keamanan membubarkan massa dengan kekerasan. Rekaman video menunjukkan seorang perempuan diseret petugas di kawasan Narmak, sementara suara ledakan keras terdengar di kota Yasuj saat aparat mencoba mengendalikan situasi.

Kerusuhan paling serius terjadi di Kota Azna, Provinsi Lorestan, ketika massa menyerbu kantor polisi pada Kamis malam. Media pemerintah melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dan 17 lainnya luka-luka dalam bentrokan tersebut. Aparat menyebut para pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu dan membakar kendaraan. Beberapa di antaranya dituding membawa senjata api, meski klaim ini tidak disertai bukti rinci.

Insiden lain dilaporkan terjadi di Kabupaten Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, di mana sedikitnya dua orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan polisi. Hingga kini belum jelas apakah korban berasal dari pihak aparat atau warga sipil.

Kematian pertama terkait gelombang protes ini terjadi pada Rabu malam, ketika seorang anggota milisi Basij tewas dan belasan lainnya luka-luka di Kota Kuhdasht. Milisi Basij dikenal kerap dikerahkan pemerintah untuk meredam aksi protes.

Pihak berwenang melaporkan puluhan orang telah ditangkap di berbagai wilayah, termasuk 20 orang di Kuhdasht dan 30 orang di Kabupaten Malard, Teheran. Aparat menuduh para tersangka mengganggu ketertiban umum dan menyalahgunakan hak untuk berdemonstrasi.

Aksi protes melibatkan pedagang bazar, mahasiswa, hingga warga kota di sejumlah daerah, dipicu oleh tekanan ekonomi dan anjloknya nilai mata uang Iran ke level terendah. Gelombang demonstrasi ini disebut sebagai yang terbesar sejak pemberontakan nasional 2022, yang dipicu kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi moral.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan keprihatinan atas laporan intimidasi, kekerasan, dan penangkapan terhadap demonstran, serta menyerukan agar pemerintah Iran menghentikan penindakan keras. Meski masih bersifat sporadis, aksi protes ini mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik dan perlawanan sipil yang terus tumbuh di Iran. 

 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.