Minta Pemilu, Ribuan Warga Israel Berkumpul dalam Protes Anti-Pemerintah di Tel Aviv

AKURAT.CO Ribuan demonstran Israel turun ke jalan pada hari Sabtu, mereka menyerukan pemilihan umum baru dan menuntut tindakan lebih banyak dari pemerintah untuk memulangkan para sandera yang ditahan di Gaza.
Protes terus berlanjut ketika perang di Gaza memasukin bulan ketujuh dan di tengah meningkatnya kemarahan atas pendekatan pemerintah terhadap 133 sandera Israel yang masih ditahan oleh Hamas.
"Kami di sini untuk memprotes pemerintah yang terus menyeret kami ke bawah, bulan demi bulan. Setelah tanggal 7 Oktober, kami terus melakukan protes secara spral," kata Yalon Pikman (58), warga yang menghadiri demonstrasi di Tel Aviv, dikutip Minggu (21/4/2024).
Baca Juga: Sinopsis Film Colombiana, Aksi Balas Dendam Wanita Pembunuh Bayaran yang Dikejar FBI
Survei menunjukkan bahwa sebagian besar warga Israel menyalahkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas kegagalan keamanan yang menyebabkan serangan dahsyat oleh Hamas pada 7 Oktober tahun lalu.
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel yang paling lama menjabat, telah berulang kali mengesampingkan pemilahan umum dini.
Netanyahu berpendapat bahwa pergi ke tempat pemungutan suara di tengah perang hanya akan menguntungkan Hamas.
Baca Juga: Wapres Minta Masyarakat Terima Apapun Putusan MK
Kelompok militan Hamas menangkap 253 orang dalam serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang, menurut perhitungan Israel.
Beberapa sandera dibebaskan dalam gencatan senjata bulan November, namun upaya untuk mendapatkan kesepakatan lain tampaknya berhenti.
Netanyahu sendiri telah berjanji untuk melakukan kampanye Israel di Gaza, yang menurut otoritas kesehatan setempat telah menewaskan lebih dari 34 ribu warga Palestina, dengan semua sandera dipulangkan dan Hamas dihancurkan.
Baca Juga: F1 GP China: Dominan, Max Verstappen Kuasai Shanghai dengan Selisih 13,77 Detik
Serangan minggu lalu terhadap Israel oleh gelombang drone dan rudal Iran mengalihkan perhatian dari konflik di Gaza dan bagi banyak keluarga sandera yang tersisa.
Mereka mengatakan bahwa terdapat perasaan waktu hampir habis.
Baca Juga: Bharada E Nikahi Sang Kekasih, Ronny Talapessy Jadi Saksi
"Ibuku sangat kuat. Dia menyatukan kami," kata Sharone Lifschitz (52) yang ibunya termasuk di antara sandera yang dibebaskan pada bulan November, namun ayahnya masih ditahan.
"Tetapi seiring berjalannya waktu, beban dari apa yang terjadi semakin membebani pundaknya, dan harapannya semakin berkurang," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









