Ternyata Ini Penyebab Korea Selatan Krisis Pelayanan Kesehatan, 10 Ribu Dokter Mengundurkan Diri

AKURAT.CO Ribuan dokter muda di Korea Selatan menolak untuk merawat pasien dan melakukan operasi sejak mogok kerja dimulai pada 20 Februari 2024.
Sebanyak 10.000 dokter bahkan telah mengajukan pengunduran diri dari ratusan rumah sakit di seluruh penjuru Korea Selatan.
Hal ini mengakibatkan operasi di banyak rumah sakit besar terhambat dan mengancam stabilitas layanan kesehatan di Korea Selatan.
Dikutip dari Reuters, sebanyak 8.940 dokter magang dan dokter muda di Korea Selatan telah meninggalkan tempat kerjanya sebagai bentuk protes.
Pemerintah Korea Selatan, untuk pertama kalinya, mengeluarkan peringatan level tinggi untuk sektor kesehatan masyarakat.
Mogok kerja besar-besaran ini dipicu oleh rencana pemerintah untuk meningkatkan kuota penerimaan mahasiswa kedokteran di Korea Selatan sebanyak 2.000 orang per tahun.
Saat ini, kuotanya hanya 3.058 orang per tahun. Jika rencana ini dilaksanakan, kuota akan menjadi 5.058 orang per tahun.
Penambahan kuota ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah dokter di Korea Selatan hingga setidaknya 10.000 dokter pada tahun 2035 untuk mengatasi penuaan penduduk yang cepat.
Pemerintah memperkirakan pada tahun 2025, lebih dari seperlima penduduk Korea Selatan akan berusia di atas 64 tahun.
Bidang-bidang utama yang menjadi fokus pemerintah dalam rencana ini mencakup pediatri, kebidanan, dan perawatan darurat.
Para dokter yang mogok kerja keberatan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan kuota mahasiswa kedokteran dengan alasan bahwa sudah ada cukup banyak dokter di Korea Selatan.
Mereka juga khawatir bahwa penambahan perekrutan akan menurunkan kualitas perawatan medis.
Mereka mengatakan bahwa dokter yang bersaing dengan lebih banyak orang akan melakukan perawatan yang tidak perlu, yang akan meningkatkan pengeluaran medis negara.
Selain itu, seperti mahasiswa kedokteran saat ini, sebagian besar mahasiswa baru yang direkrut kemungkinan besar akan memilih profesi yang populer dan berbayaran tinggi seperti bedah plastik dan dermatologi.
Ini berarti masalah kekurangan dokter di bidang penting tetapi berbayaran rendah seperti pediatri, obstetri, dan departemen gawat darurat akan tetap ada.
Para dokter juga menuntut peningkatan upah dan pengurangan beban kerja.
Dengan penambahan kuota mahasiswa kedokteran, pemerintah berharap dapat memperbaiki angka ini.
Namun, rencana tersebut justru memperburuk krisis yang sedang terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









