Akurat Logo

Tragedi Suporter Meninggal Berulang, Erick Thohir Minta Usut Tuntas dan Dorong Sanksi Pengurangan Poin

Dian Eko Prasetio | 26 Oktober 2026, 20:02 WIB
Tragedi Suporter Meninggal Berulang, Erick Thohir Minta Usut Tuntas dan Dorong Sanksi Pengurangan Poin
Menpora Erick Thohir saat memberikan keterangan terkait program kepemudaan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kantor Kemenpora, Jakarta, Selasa (13/10/2026). ANTARA/Fauzan.

AKURAT.CO, Dunia sepakbola tanah air kembali diselimuti duka mendalam usai seorang suporter Persib Bandung (Bobotoh) meninggal dunia usai menyaksikan laga tandang tim kesayangannya melawan Garudayaksa FC pada lanjutan Super League 2026-2027 di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (25/10/2026) malam.

Menanggapi tragedi memilukan tersebut, Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, menegaskan bahwa keselamatan suporter saat berangkat hingga kembali ke rumah harus menjadi prioritas utama.

Erick Thohir mengungkapkan bahwa dirinya telah bergerak cepat dengan mengontak langsung pihak kepolisian untuk mengusut tuntas motif di balik aksi kriminalistis yang menewaskan pelajar SMA asal Bogor tersebut.

"Saya tadi telepon Pak Kapolres langsung, Pak Arfan (Zulkan Sipayung), saya bilang, 'Pak, tolong tindak lanjuti pasti seperti apa. Apakah ini kriminal murni atau ketidaksukaan atas suporter?'," kata Erick Thohir saat ditemui di Theater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Baca Juga: Gara-gara Teror Suporter, Erick Thohir Ancam Kembali Larang Suporter Tandang

"Nanti kita lihat hasil keputusan pihak Polri. Jadi kalau di luar tempat pertandingan itu sudah hukum, apalagi kalau sampai ada korban jiwa."

Kepolisian sendiri bertindak cepat dengan mengamankan lima orang terduga pelaku penyerangan tersebut. Erick menekankan perlunya pemisahan yang jelas antara penegakan hukum kriminal di luar lapangan dan sanksi regulasi sepakbola di dalam area stadion.

Menurutnya, penindakan di luar zona pertandingan merupakan ranah hukum pidana yang membutuhkan kerja sama ketat dengan kepolisian. Namun, jika insiden kerusuhan pecah di dalam lapangan, operator dan PSSI tidak akan segan menjatuhkan hukuman terberat bagi klub dan suporter.

"Kalau masih terjadi kerusuhan di dalam lapangan, itu pasti tanggung jawab klub dan suporter, dan akhirnya bisa dikurangi poin. Kalau masih terjadi hal seperti Kanjuruhan, mohon maaf, sudah lah pengurangan poin sebanyak-banyaknya saja biar ada efek jera," ujar Erick.

Erick juga menyayangkan aksi kekerasan yang terus berulang dan memecah belah persatuan bangsa, padahal sepakbola terbukti menjadi alat pemersatu saat Timnas Indonesia meraih prestasi internasional.

"Sampai kapan negara kita harus terpecah seperti ini? Padahal bola kemarin ketika kita juara (FIFA ASEAN), kita menyatukan seluruh bangsa kita. Nah, ini yang kita harus kembali tata ulang dengan baik, kompromistis, dan juga penegakan hukum," pungkasnya.

Sebagai informasi, korban ARK (16 tahun) ditemukan tergeletak bersimbah darah dengan luka bacok di ruas Jalan Raya Jakarta–Bogor saat perjalanan pulang usai laga Garudayaksa FC vs Persib Bandung yang berakhir dengan skor 1-2. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun nyawanya tidak tertolong akibat luka parah yang dideritanya.


Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.