Akurat Logo

Dewan FIFA Periksa Peace Prize yang Diberikan Gianni Infantino kepada Donald Trump

Hervin Saputra | 16 Oktober 2026, 19:28 WIB
Dewan FIFA Periksa Peace Prize yang Diberikan Gianni Infantino kepada Donald Trump
Presiden FIFA, Gianni Infantino, saat memberikan FIFA Peace Prize kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di sela undian Piala Dunia 2026 di Washington DC, 5 Desember 2025. X/centregoals

AKURAT.CO, Organisasi induk sepakbola dunia, FIFA, membentuk sebuah komite yang akan bertugas untuk memeriksa FIFA Peace Prize yang diberikan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Pembentukan komite ini dilakukan di sela pertemuan Dewan FIFA di markas besar mereka di Zurich, Swiss, pekan ini.

Pemeriksaan terhadap FIFA Peace Prize yang diberikan kepada Donald Trump merupakan salah satu masalah yang diajukan Dewan FIFA untuk menyoroti kepemimpinan Gianni Infantino sebagai presiden.

"Mereka akan mempertimbangkan, pertama-tama, bagaimana munculnya Peace Prize, apakah harus ada, apakah harus dianugerahkan dengan cara yang sudah terjadi, siapa yang mengambil keputusan dan apakah seharusnya ditiadakan atau apakah harus direformasi," kata Wakil Presiden FIFA, Debbie Hewitt, dipetik dari Newsweek.

Baca Juga: FIFA Luncurkan “FIFA Peace Prize”, Penghargaan Perdamaian yang Akan Debut di Piala Dunia 2026

FIFA Peace Prize untuk Donald Trump disampaikan ke publik kali pertama oleh Gianni Infantino pada November 2025. Sebulan kemudian Infantino menyerahkan penghargaan tersebut kepada Trump di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat.

Anugerah yang diberikan kepada Trump di sela undian Piala Dunia 2026 itu adalah FIFA Peace Prize pertama dalam sejarah. Infantino mengajukan argumen bahwa Trump berhak mendapatkannya karena berhasil membuat gencatan senjata antara Hamas dan militer Israel dalam konflik Gaza.

Pun demikian, penghargaan tersebut kini dipersoalkan tak lepas dari rangkaian polemik yang melanda FIFA dengan Gianni Infantino sebagai pusat perhatian.

Kritik pertama terhadap FIFA Peace Prize adalah bahwa FIFA sebagai organisasi independen yang punya prinsip "haram" terlibat politik praktis justru melakukan larangan tersebut dengan memberikan penghargaan kepada Trump.

FIFA Peace Prize dilihat sebagai bagian dari "konflik kepentingan" karena Trump dan AS ketika itu bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.

Pada perjalanannya, FIFA mendapat kritik ketika komite disiplinnya menangguhkan kartu merah terhadap penyerang AS, Folarin Balogun, agar bisa tampil menghadapi Belgia di 16 besar Piala Dunia.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.