Akurat

Mengenal Lavender Marriage, Pernikahan Tanpa Cinta demi Tuntutan Sosial

Eko Krisyanto | 1 Juli 2025, 19:11 WIB
Mengenal Lavender Marriage, Pernikahan Tanpa Cinta  demi Tuntutan Sosial

AKURAT.CO Lavender Marriage merupakan istilah yang merujuk pada pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang dilakukan sebagai kedok untuk menyembunyikan orientasi seksual salah satu atau kedua pasangan yang sebenarnya nonheteroseksual (misalnya homoseksual atau biseksual). 

Baca Juga: Arti Istilah Lavender Marriage, VIral di Media Sosial Dikaitkan dengan Sherina Munaf dan Baskara Mahendra!

Pernikahan ini biasanya tidak didasari oleh cinta romantis, melainkan dilakukan untuk memenuhi tuntutan sosial, norma heteronormatif, menjaga citra publik, atau demi alasan karier terutama di lingkungan atau budaya yang belum sepenuhnya bisa menerima keberagaman orientasi sosial. 

Sejarah Lavender Marriage 

  • Istitlah ini pertama kali mucnul pada tahun 1920-an di Hollywood ketika industri film sangat ketat dalam menjaga citra para aktor dan aktrisnya. Pada masa itu, orientasi seksual nonheteroseksual dianggap tabu, bahkan bisa mengancam karier dan reputasi publik seseorang yang akhirnya membuat Hollywood sering mengatur pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang dikenal atau dicurigai sebagai nonheteroseksual. 

  • Sejak awal abad ke-20, warna lavender sudah diasosiasikan dengan komunitas LGBTQ+ karena telah menjadi salah satu bagian dari bendera dan simbol identitas queer yang melambangkan keberagaman gender dan seksualitas. 

  • Istilah ini pun meluas penggunaannya. Tidak hanya di kalangan selebritas, tetapi juga di masyarakat umum yang menghadapi tekanan sosial serupa. Di Amerika Serikat, istilah ini dimulai pada tahun 1990-an, meskipun praktiknya sendiri sudah ada jauh sebelumnya. 

Pada generasi muda, lavender marriage mulai diadopsi bukan hanya untuk menyembunyikan orientasi seksual, tetapi juga sebagai bentuk kemitraan pragmatis. Beberapa pasangan memilih menikah demi persahabatan, kenyamanan, atau tujuan bersama yang bukan karena cinta atau seksualitas. 

Biasanya, kedua pihak sadar akan orientasi seksual masing-masing dan sepakat menjalani pernikahan demi keuntungan bersama. Seringkali ditemukan bahwa mereka juga turut menjalani kehidupan pribadi yang terpisah, bahkan memiliki hubungan romantis masing-masing di luar pernikahan. 

Baca Juga: Istri Tegaskan Okan Cornelius Tidak Homo

Ciri-Ciri Lavender Marriage 

  • Dilakukan sebagai strategi sosial dengan tujuan untuk menutup identitas seksual sebenarnya dari pasangan agar diterima oleh keluarga, masyarakat, atau lingkungan kerja. 

  • Sering terjadi pada kalangan publik figur demi menjaga reputasi dan karier mereka di tengah stigma terhadap homoseksualitas. 

  • Hubungan ini lebih bersifat formalitas atau kesepakatan bersama, bukan karena adanya ketertarikan emosional atau seksual antara pasangan. 

  • Namun, pasangan yang menjalani lavender marriage sering menghadapi tekanan emosional, kecemasan, bahkan krisis identitas, karena harus menjalani hidup yang tidak sesuai dengan jati diri mereka. 

Di banyak budaya, termasuk di India, Tiongkok, dan negara-negara dengan norma heteronormatif yang kuat, tekanan untuk menikah secara heteroseksual sangat besar.

Banyak orang LGBTQ+ memilih untuk melakukan praktik lavender marriage untuk menghindari stigma, menjaga kehormatan keluarga, atau memenuhi ekspektasi masyarakat.

Lavender marriage kerap terjadi akibat tekanan sosial yang kuat terhadap individu nonheteroseksual di masyarakat.

Di balik pernikahan yang tampak konvensional, tersembunyi beban psikologis dan konflik identitas yang besar. Maka dari itu, penting bagi masyarakat untuk lebih empati dan saling menghargai. 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R