Ditinggal Suami dan Anak Berpulang, Tarnyu Bertahan dari Warteg hingga Catering Berkat Modal KUR BRI

AKURAT.CO Tarnyu (55), perempuan asal Kaligangsa, Banjaranyar, Breres merantau ke ibu kota dan menikah dengan warga Betawi yang kebetulan PNS di Pemda DKI. Mereka kemudian tinggal di bilangan Jalan Gaharu I, dekat Jalan Pangeran Antasari.
Lokasi tempat tinggal yang terbilang cukup ramai lalu lalang pegawai kantoran di sekitar Pasar Cipete Selatan dan pekerja Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kelurahan Cilandak Barat, membuat Tarnyu terinspirasi untuk buka usaha warteg.
Sekitar tahun 2004 an Tarnyu pertama kali meminjam KUR ke BRI untuk modal wartegnya. Dari warteg, lama kelamaan ia sewakan juga lapak di depan rumahnya untuk warung rokok, es kelapa yang masih dijalankan oleh saudara-saudaranya. Tarnyu pun sudah bolak balik pinjam ke BRI, yang terkini sekitar Rp25 jutaan pada 2022 lalu dan sudah lunas.
Sayangnya, seiring berjalan waktu, ia harus ditinggal suami dan 1 anak yang berpulang tak lama setelah Covid-19 merebak. Kini Tarnyu tinggal hanya dengan 1 anaknya lagi.
“Jadi saya kan suami orang betwai asli, pegawai negeri Pemda DKI. Nikah tinggal di rumah ini. Karena banyak karyawan juga di sekitar rumah akhirnya memutuskan jualan, kan ada kantor dinas kebersihan juga di samping rumah. Jadi rumah buat warung juga begitu. Tapi sekarang suami dan 1 anak saya sudah berpulang karena sakit. Ini ada rumah tinggalan (warisan),” tutur Tarnyu.
Sejak ditinggal suami dan 1 anaknya yang berpulang, Tarnyu tak meneruskan usaha wartegnya. Kini ia bekerja untuk mengisi waktu. Sesekali ia juga menjaga warung rokok dan es kelapa setika libur, yang mana sehari-harinya warung tersbeut lebih banyak dipegang oleh adiknya.
“Sudah dua tahunan enggak wartegan. Karena enggak ada yang bantuin sendirian sama satu anak, saya capek. Biasanya kan ada suami yang bantuin terus dulu ada 2 pembantu juga. Usai enggak wartegan, saya catering antar rutin ke polisi selama setahunan. Tapi sejak Presiden Prabowo dilantik karena anggarannya Polisi enggak ada akhirnya enggak dilanjut cateringnya. Akhirnya saya kerja daripada bengong. Karena kami biasa ada kesibukan ketika enggak ada kesibukan itu enggak enak gitu, bengang bengong,” cerita Tarnyu.
Diakui Tarnyu, BRI sangat membantunya dalam melanjutkan usaha warung dari waktu ke waktu, terutama karena keterjangkauan bunga yang memungkinkan pelaku usaha kecil seperti dirinya mampu mengangsur. Kini ia juga mempertimbangkan untuk melakukan topup untuk menyeriusi Kembali bisnis catering. Karena sesekali Tarnyu masih sering ditanya para pelanggan cateringnya.
“Saya langganan pinjam BRI itu sudah lama sih sebenarnya, dari mulai dagang berapa belas tahun yang lalau, lama banget, dari jaman Presidennya masih SBY. Dari awal dagang modal pertamanya memang dari BRI. Enaknya bunganya enggak gede, kecil dan standar lah buat kami yang usaha kecil-kecilan seperti ini. Masih masuk, tuturnya.
Mampir ke Warung Tarnyu Jadi Rutinitas Pekerja di Sekitar
Warung Tarnyu biasa menjadi tempat langganan para PPSU dan ojol serta warga yang melintas
Keberadaan warung Tarnyu juga dirasakan manfaatnya oleh pelanggan yang rutin datang. Rudi (41), petugas PPSU Kelurahan Cilandak Barat, mengaku warung Tarnyu menjadi tempat andalan bagi pekerja lapangan di sekitar wilayah tugasnya.
Baginya, tempat makan ini bukan sekadar lokasi membeli makanan, tetapi sudah menjadi bagian dari rutinitas kerja dan aktivitas harian.
“Kalau lagi tugas bersih-bersih atau penanganan lingkungan, waktu istirahat itu singkat. Di sini cepat, jadi aman kalau lagi tugas dan jam istirahat terbatas. Ke Warteg Bu Tarnyu karena makanannya rumahan dan harganya masih masuk buat pekerja lapangan,” ujar Rudi.
Hal serupa dirasakan Dipta (29), karyawan perkantoran di sekitar Pasar Cipete Selatan. Ia mengatakan warteg tersebut menjadi tempat langganan makan siang karena dekat dan praktis. “Buat pekerja kantor seperti saya, tempat makan dekat itu penting. Suasananya nyaman dan enggak perlu keluar jauh dari area kerja,” katanya.
Menurut Dipta, keberadaan warung tersebut ikut mendukung produktivitas pekerja di sekitar area pasar dan perkantoran.
“Kalau jam makan siang cari yang cepat, bersih, dan enggak bikin antre lama. Saya sudah langganan karena makanannya konsisten dan terasa seperti makan rumahan. Warung seperti ini juga bikin pekerja kantor seperti saya punya pilihan makan yang dekat tanpa harus keluar area terlalu jauh,” kata Dipta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







